Catatan Seorang Jurnalis
Sehidup Semati, Abadi dalam Kristus
Eva pergi dalam damai. Seperti lilin yang habis terbakar. Sedang Leo seakan tahu, bahwa sang istri tak bisa jalan sendiri menuju Firdaus.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Gryfid Talumedun
Saat disambangi pada Senin (30/3/2026) pagi, rumah duka dipenuhi karangan bunga.
Dua jenazah disemayamkan berdampingan di ruang tamu, masing-masing dalam peti.
Leo tampak mengenakan jas hitam, sementara Eva mengenakan gaun putih.
Keduanya terlihat tenang, damai dalam pelukan keabadian.
Kaur Kesra Desa Watutumou, Agusta Allow, mengungkapkan bahwa Leo meninggal dunia di saat penantian waktu dua jam untuk memastikan kematian sang istri secara medis.
Sebelumnya Eva dirawat di rumah sakit karena kanker usus.
“Tiba-tiba ia merasa sesak napas dan dibawa ke UGD. Ia wafat saat pendeta sedang menyelesaikan doa untuk istrinya di ruang jenazah,” ujarnya.
Menurutnya, cinta kasih keduanya begitu nyata hingga detik-detik terakhir.
Bahkan dalam kondisi kritis, Eva sempat meminta agar suaminya tidur bersamanya.
“Dokter mengizinkan. Keduanya pun tidur. Suaminya tertidur lelap, bahkan mendengkur, dan Eva bisa beristirahat dengan tenang,” katanya.
Kebersamaan itu, lanjutnya, memang selalu terlihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat beribadah.
“Keduanya selalu bersama-sama ke gereja,” tambahnya.
Putri semata wayang mereka Valentine Grieda Sahuburua, mengenang ketelatenan sang ayah dalam merawat ibunya selama sakit.
“Ayah terus menjaga ibu dengan sabar, tanpa pernah mengeluh,” ungkapnya.
Ia juga mengingat momen-momen kecil penuh kasih di rumah sakit, termasuk saat ayahnya yang kelelahan tetap ingin menemani sang ibu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Penatua-Leonard-Matheis-Sahuburua-57-dan-Diaken-Ninerva-Andilolo-52-berpulang.jpg)