Catatan Seorang Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Kembali pada Fitrah
Setiap Lebaran, saya selalu terkenang sosok ini. Dia Ali Marjuni. Napi di Lapas Bitung. Ali dihukum berat. Pidana penjara seumur hidup.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Setiap Lebaran, saya selalu terkenang sosok ini. Dia Ali Marjuni. Napi di Lapas Bitung. Ali dihukum berat. Pidana penjara seumur hidup.
- Dosanya memang sulit termaafkan. Ali divonis mengotaki pembunuhan anak dan istrinya. Peristiwa itu terjadi 2008 silam.
- Kala Ali masih berstatus polisi.
Setiap Lebaran, saya selalu terkenang sosok ini. Dia Ali Marjuni. Napi di Lapas Bitung. Ali dihukum berat. Pidana penjara seumur hidup.
Dosanya memang sulit termaafkan. Ali divonis mengotaki pembunuhan anak dan istrinya. Peristiwa itu terjadi 2008 silam.
Kala Ali masih berstatus polisi.
Saat istri dan anaknya ditemukan tewas, Ali sempat bikin seisi Sulut berduka ; saat ia menangis tersedu - sedu di pelukan Kapolda Sulut kala itu.
Semua di Sulut prihatin pada Ali. Bahkan, meminjam istilah Permesta, batu, pasir dan daun pun berpihak pada Ali.
Ini berubah setelah polisi menangkap Rojak. Dari mulut Rojak keluar pengakuan mengejutkan. Otak pembunuhan itu ternyata Ali.
Order pembunuhan datang dari Ali. Imbalannya segepok uang, yang kata Ali untuk modal usaha Rojak. Publik berbalik memusuhi Ali.
Ia dikutuk beramai - ramai. Hukuman seumur hidup belum memuaskan rasa keadilan publik.
Mereka minta Ali dihukum mati dengan cara tersadis.
Nah 2017 lalu, saya meliput pemberian remisi Lebaran di Lapas Tewaan Bitung.
Saat tengah foto - foto, seseorang yang tak bisa saya sebut namanya, mengajak saya ke suatu ruangan.
"Ada orang mau ketemu," katanya.
Ternyata orang itu Ali. Saya terkejut.
Agak merinding berhadapan dengan seorang pembantai anak bini sendiri. Ali mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah foto.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/IDUL-FITRI-Suasana-Salat-Ied-di-Manado-Sulawesi-Utara.jpg)