Opini
Membina Karakter Murid Generasi-Z Bagian 1
Sebagai seorang guru SMA, saya bersyukur dapat bertemu, berinteraksi dan berkenalan dengan anak muda kreatif, multitasking, energik, ceria.
Mungkin hal inilah yang membuat anak anak lebih betah bermain game online atau pun berselancar di medsos dan bermain tik tok karena hanya disitulah mereka dapat dengan bebas mengekspresikan diri mereka.
Ki Hijar Dewantara menyamakan sekolah itu bagaikan taman bermain---tidak ada sekat; tempat bertemunya keberagaman dan imajinasi.
Sekolah harusnya demikian: membebaskan dan membentuk karakter. Taman yang luas dan berwarna merangsang otak untuk berimajinasi. Apabila hal itu telah terpenuhi maka apa yang dikatakan Albert Einstein akan terbukti benar adanya bahwa "imajinasi jauh lebih hebat daripada pengetahuan".
Hal ini selaras juga dengan perkataan Sukarno yang menginspirasi anak anak muda, "bermimpilah setinggi langit karena jika engkau jatuh maka engkau akan jatuh dihamparan bintang bintang".
Perkataan Bung Karno ini menyiratkan bahwa mimpi (imajinasi) penting bagi perkembangan kreativitas anak muda dalam mengejar cita citanya. Pendidikan yang membebaskan akan memberi ruang bagi anak muda untuk belajar bersama, beradaptasi dan tentunya belajar menghormati sesama baik yang muda maupun orang tua.
Karakter Gen Z (Digital Native)
Ada cukup banyak perbedaan pengertian mengenai siapa sebenarnya Gen Z dan Gen Alpha.
Dalam tulisan ini saya coba menggabungkan pengertian kedua generasi ini berdasarkan kutipan buku Mendidik Gen Z dan Gen Alpha karya J Sumardiata dan Wahyu Kris (2018) serta buku Seni Mengajar Gen Z dan Gen Alpha karya Anitalia Stefany Welayana (2024) membagi Gen Z pada anak kelahiran 1995-2012, kemudian Gen Alpha pada anak kelahiran 2013-2025.
Karakter Gen Z dan Gen Alpha memiliki beberapa kesamaan karena mereka adalah warga digital (digital native) yang hidup pada masa transisi teknologi modern yang berkembang begitu pesat sehingga dapat dikatakan kedua generasi ini hidup dan tinggal dalam teknologi dan perkembangan kecerdasan artifisial.
Jika merujuk pada definisi ini maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas anak anak yang masuk kategori Gen Z sekarang adalah anak anak yang sedang menempuh pendidikan SMA dan sementara belajar di bangku kuliah.
Gaya belajar Gen Z
Karena sudah terbiasa dengan teknologi dalam hal ini penggunaan gawai (gadget) maka hal ini memengaruhi cara belajar dari generasi Z dan Alpha.
Mereka adalah generasi paperless yang tidak akrab dengan kertas dan pensil sehingga ada kecenderungan mereka menjadi generasi yang tingkat konsentrasinya jauh lebih pendek. Mereka lebih suka belajar melalui video pendek, animasi dan grafik.
Dengan banyaknya arus informasi yang mereka terima setiap hari maka perlu bagi pendidik maupun orang tua untuk mengawasi penggunaan gadget generasi ini. Mereka mudah terpapar hoax karena sulitnya mereka menyaring informasi dengan benar.
Kemampuan multitasking mereka ternyata juga berdampak negatif apabila tidak didampingi. Mereka jadi lebih sulit untuk berkonsentrasi dan tidak fokus pada pembelajaran.
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/SISWA-Sekumpulan-siswa-SMA-Rex-Mundi-Manado-generasi-Z-yang-energik-dan-ceria.jpg)