Breaking News
Jumat, 24 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Membina Karakter Murid Generasi-Z Bagian 1

Sebagai seorang guru SMA, saya bersyukur dapat bertemu, berinteraksi dan berkenalan dengan anak muda kreatif, multitasking, energik, ceria.

Editor: Rizali Posumah
Tribun Manado
SISWA - Sekumpulan siswa SMA Rex Mundi Manado generasi Z yang energik dan ceria berpose akrab bersama guru mereka di depan bangunan sekolah. Foto ini menggambarkan kolaborasi antargenerasi yang krusial untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang menyenangkan dan adaptif di era digital. 

Bagaimana peran pendidikan dalam pengembangan karakter anak anak muda yang termasuk dalam Gen-Z dan Gen-Alpha?

Gen Z dan Pendidikan

Ada kesenjangan generasi antara  guru dan murid   yang harus dicari jembatannya (Bridging generation)---guru beradaptasi dengan gen Z yang kreatif namun bersamaan dengan itu tetap mengajarkan empati dan berpikir kritis.

Guru perlu menciptakan disrupsi (membuat sesuatu dengan cara yang baru) siap menyesuaikan dengan kebutuhan murid sekarang. 

Hal ini tidak bermaksud mengecilkan peran guru dengan mengikuti semua apa yang diinginkan oleh muridnya. 

Dalam sejarah Indonesia tercatat bagaimana peran antara generasi yang lebih tua dengan yang muda dalam menciptakan perubahan terlihat dalam diri organisasi Budi Utomo yang digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo usia saat usianya 56 tahun dengan Dr. Soetomo, Soeradji dan Goenawan yang berusia 20 tahun. 

Alhasil segala perbedaan generasi mengantarkan perjuangan mereka menjadi motor bagi dimulainya pergerakan nasional 1908.

37 tahun kemudian seakan terjadi pergolakan antara golongan Tua (Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subarjo) dengan golongan muda (Sukarni, Chaerul Saleh, Wikana, Sayuti Melik dan Yusuf Kunto) mengenai arah kemerdekaan. 

Namun pada akhirnya sejarah mencatat 16 sampai dengan 17 Agustus 1945 menjadi bagian dari perjalanan heroik para pejuang bangsa the founding father Indonesia.

Kerja sama antara golongan tua dan golongan muda menghasilkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. 

Kita juga mengenang bagaimana munculnya generasi muda angkatan 1966, dan angkatan 1998 yang berhasil menggulingkan rezim orde lama dan orde baru.

Benang merah dari peristiwa sejarah ini dapat diartikan bahwa dalam setiap perubahan yang digagas oleh anak muda selalu melibatkan tenaga dan pikiran kaum tua juga. 

Hal ini menggambarkan betapa pentingnya kolaborasi antar generasi. Anak muda membutuhkan pengalaman orang tua sedangkan orang tua membutuhkan semangat dan rasa ingin tahu yang dimiliki oleh orang muda.

Dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara pendidikan itu haruslah menyenangkan. Sedangkan dalam diri anak anak Indonesia, sekolah itu menyeramkan. 

Mereka lelah belajar seperti robot dari pagi hingga sore kemudian diteruskan lagi belajar mandiri di rumah karena tugas tugas yang sepertinya tak kunjung habis. 

Sekolah menjadi tempat yang membelenggu kreatifitas anak. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 

Otak Dangkal di Lautan Digital

 

Paskah dan Jeruji Besi

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved