Catatan Seorang Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Kembali pada Fitrah
Setiap Lebaran, saya selalu terkenang sosok ini. Dia Ali Marjuni. Napi di Lapas Bitung. Ali dihukum berat. Pidana penjara seumur hidup.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Sengkon Karta adalah dua orang yang divonis bersalah melakukan pembunuhan dan telah menjalani hukuman, hingga pembunuh sebenarnya mengaku.
Kasus Sengkon Karta menandai kelahiran upaya hukum peninjauan kembali.
"Mungkin saja ada PK dengan mempertimbangkan faktor bahwa pembunuhnya sudah mengaku," kata dia.
Lebaran adalah hari Ali menyatu dengan kenangan sekaligus berpisahnya ia dengan para sahabat.
Setiap lebaran, ada saja rekannya yang bebas karena remisi. Pun saat Natal.
Sedang Ali dipastikan mati di penjara, mungkin juga dikuburkan di penjara.
Namun Ali tidak mengutuk kegelapan.
Ia justru coba menyalakan cahaya. Di Lapas, Ali terlibat dalam usaha batako yang kini menggeliat di Lapas.
Ia juga aktif membangun Mesjid Lapas serta tempat jenguk keluarga.
"Saya ingin berbuat baik untuk membuktikan saya tidak bersalah," kata dia.
Ada kejujuran dalam kata kata Ali ini. Atau entahlah, mungkin ia hanya bersandiwara.
Hanya Tuhan yang tahu. Saya hanya menunaikan tugas sebagai wartawan.
Saya menulis apa adanya. Saya percaya hukum. Hukum adalah bayangan sorga.
Tapi saya tak percaya pada manusia yang mengaku tahu hukum lebih dari siapapun.
Merekalah pelanggar hukum itu, yang pintar berakrobat untuk lolos jerat hukum, maupun membuat pasal untuk menjerat lawan politik.
Idul Fitri hendaknya membuat kita kembali pada fitrah.
Hukum sesuai fitrahnya adalah menegakkan kehendak Allah di atas bumi. Bukan untuk menegakkan kehendak manusia untuk menguasai manusia lainnya. (Arthur Rompis)
Baca Berita Tribun Manado di Google News
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/IDUL-FITRI-Suasana-Salat-Ied-di-Manado-Sulawesi-Utara.jpg)