Catatan Seorang Jurnalis
Catatan Seorang Jurnalis: Kembali pada Fitrah
Setiap Lebaran, saya selalu terkenang sosok ini. Dia Ali Marjuni. Napi di Lapas Bitung. Ali dihukum berat. Pidana penjara seumur hidup.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
"Ini foto istri dan anak saya," kata dia sambil meneteskan air mata.
"Setiap Lebaran saya selalu terkenang mereka, biasanya saat lebaran kami makan bersama,".
Rasanya saya ingin menonjok dia. Mereka dulu kau bunuh, kini kau rindu.
Mungkin Ali membaca pikiran saya.
Ia memperjelas duduk perkara.
"Saya ini korban peradilan sesat," kata Ali dengan suara bergetar, bercampur tangis dan amarah.
Ali kemudian bercerita tentang rekayasa yang ia alami.
Semua berbau plot. Banyak teori konspirasi. Tidak meyakinkan.
Tapi kata - katanya kemudian membuatku menimbang.
"Saya dijebak, pembunuhnya sudah pernah mengakui itu, Komnas HAM pun sudah memberi rekomendasi, namun proses terhadap saya berjalan terus, saya prihatin," kata dia.
Ali terus curhat. Saya terus menimbang.
"Kalau saya pembunuhnya mengapa keluarga istri saya rutin menjenguk saya kala lebaran, mereka meminta saya tabah," kata dia.
Ali bertekad mencari keadilan. Dia akan melakukan segala sesuatu yang mungkin, termasuk menyurat ke Presiden.
"Kalau memang saya pembunuhnya, dihukum seperti ini saya pasti sudah terima, tapi ini bukan saya pelakunya, saya akan terus berjuang hingga keadilan datang," kata dia.
Kisah Sengkon Karta menjadi inspirasinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/IDUL-FITRI-Suasana-Salat-Ied-di-Manado-Sulawesi-Utara.jpg)