Opini
Perang Israel - Iran: Tragedi Kemanusiaan, Bukan Perang Agama
Anak-anak kehilangan orang tua. Keluarga kehilangan rumah. Kota-kota hancur. Masa depan generasi muda menjadi suram.
Di tengah konflik global yang sarat dengan kekerasan, masyarakat Manado dan Minahasa memiliki pengalaman sosial yang berharga dalam membangun kehidupan lintas agama yang relatif harmonis.
Wilayah ini sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai identitas keagamaan dan budaya.
Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi dan berbagai komunitas lainnya hidup berdampingan dalam keseharian sosial yang saling menghormati.
Relasi antar-umat beragama tidak hanya dibangun melalui dialog formal, tetapi juga melalui praktik kehidupan sehari-hari: bertetangga, bekerja bersama, serta saling hadir dalam berbagai peristiwa sosial.
Dalam konteks seperti ini, konflik yang terjadi di belahan dunia lain seharusnya tidak dibawa masuk sebagai sumber polarisasi di tingkat lokal.
Justru sebaliknya, masyarakat Manado dapat menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak harus berujung pada konflik.
Pengalaman sosial masyarakat Sulawesi Utara memperlihatkan bahwa identitas keagamaan dapat menjadi sumber solidaritas, bukan sumber permusuhan.
Menjaga Nalar Kemanusiaan
Di era media sosial, informasi tentang konflik global dapat menyebar dengan sangat cepat.
Sayangnya, tidak semua informasi tersebut disertai pemahaman yang utuh tentang konteks politik dan sejarah yang melatarbelakanginya.
Karena itu, masyarakat perlu menjaga nalar kemanusiaan dalam merespons berbagai konflik yang terjadi di dunia.
Simpati terhadap korban perang tentu merupakan sikap yang wajar. Namun simpati tersebut seharusnya tidak berubah menjadi kebencian terhadap kelompok agama tertentu.
Perang selalu meninggalkan satu pelajaran penting: “yang benar-benar kalah dalam setiap perang adalah kemanusiaan itu sendiri”.
Di tengah berbagai konflik global yang terus terjadi, masyarakat Manado dan Minahasa justru memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kehidupan lintas agama dapat berjalan dalam semangat saling menghormati.
Dalam situasi dunia yang semakin rentan terhadap konflik identitas, pengalaman sosial seperti inilah yang dapat menjadi harapan bagi masa depan kemanusiaan. Wallahu a‘lam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Arhanuddin-Salim_3.jpg)