Opini
Perang Israel - Iran: Tragedi Kemanusiaan, Bukan Perang Agama
Anak-anak kehilangan orang tua. Keluarga kehilangan rumah. Kota-kota hancur. Masa depan generasi muda menjadi suram.
Ringkasan Berita:Tentang Penulis- Penulis adalah Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Manado- Pendidikan S1 & S2 di UIN Alauddin Makassar- Alumni S3 UIN Jakarta- Alumni Partneship Islamic Education Scholarship (PIES) Program di Australian Nasional University (ANU), Australia. 2016.- Ketua Komisi Pendidikan PB HMI 2013-2015- Ketua Lakpesdam NU Cabang Manado, 2022-2026- Menjadi ASN Dosen di IAIN Manado sejak 2011
Oleh: Arhanuddin Salim
Dekan FTIK IAIN Manado
KETIKA konflik antara Israel dan Iran semakin memanas, berbagai reaksi muncul di ruang publik dunia, termasuk di Indonesia.
Media sosial dipenuhi komentar, dukungan, maupun kecaman yang sering kali dibingkai dalam narasi identitas agama.
Sebagian orang melihat konflik tersebut sebagai representasi pertarungan agama tertentu. Narasi seperti ini mudah menyebar karena menyentuh emosi kolektif umat beragama.
Namun cara membaca konflik seperti itu justru berpotensi menyesatkan. Pada hakikatnya, perang bukanlah kemenangan agama mana pun. Perang selalu merupakan tragedi kemanusiaan.
Dalam setiap konflik bersenjata, yang paling menderita bukanlah para elite politik atau para pemimpin negara yang mengambil keputusan perang.
Justru warga sipil yang tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan arah sejarah yang harus menanggung akibatnya.
Anak-anak kehilangan orang tua. Keluarga kehilangan rumah. Kota-kota hancur. Masa depan generasi muda menjadi suram.
Semua itu merupakan residu kemanusiaan dari perang yang sering kali tenggelam di balik retorika politik para pemimpin negara.
Dalam perang, sesungguhnya tidak ada kemenangan yang benar-benar utuh. Bahkan pihak yang secara militer dianggap menang tetap harus menanggung luka sosial, psikologis, dan kemanusiaan yang panjang.
Karena itu, konflik Israel-Iran seharusnya dipahami sebagai tragedi kemanusiaan yang merugikan semua pihak, bukan sebagai kemenangan atau kekalahan agama tertentu.
Perang dan Ambisi Kekuasaan
Menyederhanakan konflik geopolitik menjadi perang agama sering kali justru mengaburkan akar persoalan yang sebenarnya.
Ketegangan antara negara-negara di Timur Tengah lebih banyak dipengaruhi oleh perebutan pengaruh politik, strategi keamanan, serta rivalitas kekuasaan di kawasan.
Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa perang jarang menghasilkan kemenangan yang benar-benar utuh.
Bahkan pihak yang secara militer menguasai medan pertempuran tetap harus menanggung biaya sosial dan kemanusiaan yang sangat besar.
Baca juga: Dimensi Holistik Puasa: Ketaatan, Solidaritas, dan Amanah
Yang tersisa sering kali hanyalah akumulasi penderitaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, konflik Israel-Iran tidak seharusnya dipahami sebagai perang agama.
Menyederhanakan konflik geopolitik menjadi pertarungan teologis justru berpotensi memperdalam polarisasi di tengah masyarakat global, termasuk di negara-negara yang jauh dari medan konflik tersebut.
Agama pada dasarnya tidak pernah mengajarkan kehancuran kemanusiaan. Semua tradisi agama besar di dunia justru menempatkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kedamaian sebagai prinsip moral yang utama.
Ketika perang diklaim sebagai representasi agama tertentu, yang sebenarnya terjadi sering kali adalah manipulasi simbol-simbol agama untuk kepentingan politik dan kekuasaan.
Kehidupan Beragama di Manado
Di tengah konflik global yang sarat dengan kekerasan, masyarakat Manado dan Minahasa memiliki pengalaman sosial yang berharga dalam membangun kehidupan lintas agama yang relatif harmonis.
Wilayah ini sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai identitas keagamaan dan budaya.
Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi dan berbagai komunitas lainnya hidup berdampingan dalam keseharian sosial yang saling menghormati.
Relasi antar-umat beragama tidak hanya dibangun melalui dialog formal, tetapi juga melalui praktik kehidupan sehari-hari: bertetangga, bekerja bersama, serta saling hadir dalam berbagai peristiwa sosial.
Dalam konteks seperti ini, konflik yang terjadi di belahan dunia lain seharusnya tidak dibawa masuk sebagai sumber polarisasi di tingkat lokal.
Justru sebaliknya, masyarakat Manado dapat menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak harus berujung pada konflik.
Pengalaman sosial masyarakat Sulawesi Utara memperlihatkan bahwa identitas keagamaan dapat menjadi sumber solidaritas, bukan sumber permusuhan.
Menjaga Nalar Kemanusiaan
Di era media sosial, informasi tentang konflik global dapat menyebar dengan sangat cepat.
Sayangnya, tidak semua informasi tersebut disertai pemahaman yang utuh tentang konteks politik dan sejarah yang melatarbelakanginya.
Karena itu, masyarakat perlu menjaga nalar kemanusiaan dalam merespons berbagai konflik yang terjadi di dunia.
Simpati terhadap korban perang tentu merupakan sikap yang wajar. Namun simpati tersebut seharusnya tidak berubah menjadi kebencian terhadap kelompok agama tertentu.
Perang selalu meninggalkan satu pelajaran penting: “yang benar-benar kalah dalam setiap perang adalah kemanusiaan itu sendiri”.
Di tengah berbagai konflik global yang terus terjadi, masyarakat Manado dan Minahasa justru memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kehidupan lintas agama dapat berjalan dalam semangat saling menghormati.
Dalam situasi dunia yang semakin rentan terhadap konflik identitas, pengalaman sosial seperti inilah yang dapat menjadi harapan bagi masa depan kemanusiaan. Wallahu a‘lam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Arhanuddin-Salim_3.jpg)