Opini
Puasa dan Kesadaran tentang Hakikat Diri
Puasa memperlihatkan bahwa manusia memiliki dimensi ruhani yang tidak bergantung pada makanan dan minuman.
Al-Qur’an menegaskan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Ra‘d: 28). Ketenteraman ini bukan ketenteraman jasad, tetapi ketenteraman ruh.
Dalam kondisi lapar, manusia menjadi lebih sadar akan dirinya. Lapar melemahkan dominasi tubuh dan dorongan nafsu.
Dalam keadaan ini, kesadaran ruhani dapat muncul lebih jelas. Manusia mulai menyadari bahwa dirinya bukan sekadar makhluk biologis, tetapi makhluk spiritual yang memiliki hubungan dengan Allah.
Puasa, dengan demikian, bukan hanya praktik fisik, tetapi juga proses pengembalian orientasi hidup, dari orientasi konsumsi menuju orientasi spiritual.
Nabi Muhammad SAW bahkan menyampaikan dalam hadis qudsi bahwa Allah berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa. Puasa adalah ibadah yang paling tersembunyi, karena hanya pelakunya dan Allah yang benar-benar mengetahui kualitasnya.
Puasa adalah pengalaman batin yang mempertemukan manusia dengan dimensi terdalam dirinya. Melalui puasa, manusia belajar bahwa ia mampu mengendalikan dorongan biologisnya.
Ia tidak harus selalu menuruti setiap keinginan tubuh. Pengendalian ini bukan bertujuan untuk menyiksa tubuh, tetapi untuk menempatkan tubuh dalam keseimbangan yang benar, di bawah bimbingan kesadaran spiritual.
Dalam pengalaman ini, manusia dapat merasakan bahwa dirinya lebih dari sekadar tubuh. Ia adalah ruh yang hidup dalam tubuh.
Kesadaran ini membawa implikasi penting bagi cara manusia memandang hidup. Jika manusia hanya memandang dirinya sebagai tubuh, maka hidup akan dipenuhi kecemasan tentang pemenuhan kebutuhan materi.
Namun, jika manusia menyadari dimensi ruhnya, maka ia akan memahami bahwa hidup memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar konsumsi dan kenikmatan fisik.
Puasa menjadi latihan tahunan untuk mengingat kembali kebenaran ini. Pada akhirnya, puasa bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga kesempatan untuk mengenal diri sendiri.
Dalam lapar dan dahaga, manusia menemukan bahwa dirinya tidak hanya bergantung pada makanan, tetapi pada Allah.
Dalam kelemahan jasad, manusia menemukan kekuatan ruh. Dan dalam puasa, manusia diingatkan kembali tentang siapa dirinya yang sejati.
Manusia adalah hamba yang hidup bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan ruh yang selalu menuju kepada Tuhannya, tempat kembali hakiki yang selalu dirindukannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sulaiman-mappiasse-phd.jpg)