Opini
Puasa dan Kesadaran tentang Hakikat Diri
Puasa memperlihatkan bahwa manusia memiliki dimensi ruhani yang tidak bergantung pada makanan dan minuman.
Ringkasan Berita:Tentang Penulis- Penulis adalah dosen IAIN Manado- Lahir di Bontonyeleng, Bululumba, 26 Februari 1975- MAN Program Khusus Ujung Pandang (1991-1994)- S1: Jurusan Akidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1994-1998)- S2: School of Education, Flinders University (2004-2007)- S3: School of Social Sciences, University of Hawaii at Manoa, USA (2008-2014)- Fulbright Visiting Scholar pada Graduate Theological Union (GTU), California, USA (2021-2022).
Oleh: Sulaiman Mappiasse
SETIAP tahun, kita sebagai umat Islam menjalani puasa Ramadan sebagai kewajiban. Namun, puasa pada hakikatnya bukan sekadar praktik menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga matahari terbenam.
Puasa sesungguhnya menyentuh dimensi paling mendasar dari keberadaan manusia yakni kesadaran tentang hakikat diri.
Dalam pengalaman berpuasa, manusia diingatkan kembali bahwa dirinya bukan hanya tubuh yang membutuhkan makan, minum, dan kenikmatan biologis, tetapi juga ruh yang membutuhkan kedekatan dengan Allah.
Dalam pandangan Islam, manusia terdiri dari jasad, jiwa (nafs), dan ruh. Jasad adalah tubuh fisik yang berasal dari tanah dan bergantung sepenuhnya pada kebutuhan biologis.
Jiwa adalah pusat dorongan, emosi, dan keinginan. Sementara ruh adalah unsur ilahiah yang Allah tiupkan ke dalam diri manusia.
Al-Qur’an menyatakan: “Kemudian Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku” (QS. al-Hijr: 29). Ruh inilah yang menjadi inti kehidupan manusia. Tanpa ruh, jasad hanyalah materi yang tidak bernyawa dan bermartabat.
Jasad memiliki kebutuhan yang jelas yaitu makan, minum, dan pemenuhan dorongan biologis. Kebutuhan ini penting dan tidak dapat diingkari, karena tubuh adalah amanah dari Allah.
Namun, manusia sering kali terjebak dalam identitas biologis semata, seolah-olah hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani.
Puasa hadir untuk mengganggu rutinitas biologis ini. Puasa menghentikan sementara arus konsumsi yang biasanya dianggap wajar.
Baca juga: Puasa, Media Sosial dan Politik Global yang Membara
Ketika seseorang berpuasa, ia tetap hidup, berpikir, dan sadar, meskipun tidak makan dan minum selama berjam-jam.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak semata-mata bergantung pada pemenuhan kebutuhan jasad setiap saat.
Di sinilah puasa membuka ruang kesadaran yang lebih dalam. Puasa memperlihatkan bahwa manusia memiliki dimensi ruhani yang tidak bergantung pada makanan dan minuman.
Ruh tidak membutuhkan nutrisi biologis. Ruh membutuhkan nutrisi spiritual. Ruh haus untuk mengingat Allah, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan melakukan kebaikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/sulaiman-mappiasse-phd.jpg)