Opini
Puasa, Media Sosial dan Politik Global yang Membara
Jika seseorang dicaci atau diajak berkelahi saat berpuasa, ia diminta menjawab, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Kita mesti merenung sebelum membalas, merefleksi sebelum menyerang, dan berempati sebelum memutuskan.
“Aku sedang berpuasa” bukan sekadar kalimat ritual, tetapi deklarasi bahwa aku memilih untuk tidak dikuasai oleh kemarahan.
Jika etika ini dihidupkan oleh individu di media sosial dan oleh pemimpin di panggung dunia, maka puasa benar-benar menjadi junnah, perisai bukan hanya bagi diri, tetapi bagi kemanusiaan.
Dunia mungkin tetap penuh perbedaan, tetapi ia tidak harus terbakar oleh kebencian. Yakinlah hanya kemanusiaan dan kedamaian atas dasar kebenaran yang abadi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Dosen-Fakultas-Tarbiyah-dan-Ilmu-Keguruan-Sulaiman-Mappiasse-Lc-M-Ed-PhD.jpg)