Opini
Puasa, Media Sosial dan Politik Global yang Membara
Jika seseorang dicaci atau diajak berkelahi saat berpuasa, ia diminta menjawab, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Ringkasan Berita:Tentang Penulis- Penulis adalah dosen IAIN Manado- Lahir di Bontonyeleng, Bululumba, 26 Februari 1975- MAN Program Khusus Ujung Pandang (1991-1994)- S1: Jurusan Akidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1994-1998)- S2: School of Education, Flinders University (2004-2007)- S3: School of Social Sciences, University of Hawaii at Manoa, USA (2008-2014)- Fulbright Visiting Scholar pada Graduate Theological Union (GTU), California, USA (2021-2022).
Oleh: Sulaiman Mappiasse
PERANG Badar dan Fathu Makkah, dua peristiwa besar dalam fajar sejarah Islam, di mana Rasulullah SAW mengerahkan kekuatan militer penuh untuk menghadapi musuh. Kedua peristiwa tersebut terjadi di bulan Suci Ramadan.
Di sisi lain, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa puasa merupakan junnah (perisai).
Jika seseorang dicaci atau diajak berkelahi saat berpuasa, ia diminta menjawab, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung revolusi etika. Jangan biarkan provokasi mengendalikan dirimu. Jangan balas keburukan dengan keburukan. Kendalikan egomu sebelum ia mengendalikan duniamu.
Sekilas, kedua hal di atas saling bertentangan satu sama lain. Perang suci untuk membela diri dan memperjuangkan kebenaran terjadi di bulan Ramadan, bulan di mana setiap orang diperintahkan untuk menahan diri.
Tetapi, perang itu sendiri bisa memiliki konotasi kekerasan dan permusuhan kepada orang lain.
Hari ini, kita hidup di zaman ketika kemarahan tidak lagi membutuhkan tatap muka. Media sosial telah menjadi arena dimana kata-kata tajam bertebaran tanpa jeda.
Orang dengan mudah melontarkan ucapan kebencian, menghina, memfitnah, dan menyerang martabat orang lain hanya dengan satu sentuhan layar.
Ruang digital berubah menjadi ruang konflik permanen. Bahkan ada pemimpin yang menyebar kebencian dan kemarahannya kepada bangsa tertentu melalui media sosial.
Kita butuh puasa jari, puasa lisan, dan refleksi spiritual yang lebih dalam.
Dalam konteks ini, sabda Nabi SAW, “katakan aku sedang berpuasa” seolah menjadi kritik moral terhadap budaya digital kita.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan menahan respons impulsif. Bayangkan jika setiap pengguna media sosial memiliki kesadaran seperti itu.
Sebelum membalas komentar kasar, ia akan berkata dalam hati, “Aku sedang berpuasa.” Bukan sekadar puasa dari makanan, tetapi puasa dari kebencian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Dosen-Fakultas-Tarbiyah-dan-Ilmu-Keguruan-Sulaiman-Mappiasse-Lc-M-Ed-PhD.jpg)