Opini
Puasa, Media Sosial dan Politik Global yang Membara
Jika seseorang dicaci atau diajak berkelahi saat berpuasa, ia diminta menjawab, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Persoalan dunia hari ini tidak berhenti pada level individu. Kita juga menyaksikan ada pemimpin negara yang dengan mudah mengeluarkan ancaman, menyerang wilayah lain, atau mengganggu kedaulatan bangsa lain demi ambisi geopolitik.
Dunia terasa membara. Perdamaian seperti berada di ujung lidah dan jari yang mudah tergelincir. Di tengah situasi ini, sebagian orang mungkin kembali bertanya.
Jika puasa adalah perisai dan latihan menahan diri, bagaimana kita memahami fakta bahwa dalam sejarah Islam terdapat peperangan yang terjadi di bulan Ramadan, seperti Perang Badar atau Fathu Makkah?
Kita perlu membedakan antara peperangan yang dilakukan secara zalim atas dasar nafsu kekuasaan dan yang dilakukan atas dasar hak untuk membela diri.
Ada perbedaan antara agresi dan pembelaan, dan antara ambisi dan tanggung jawab. Peperangan pada masa Nabi SAW bukanlah ekspresi kemarahan personal atau ekspansi tanpa batas.
Ia terjadi dalam konteks ancaman nyata terhadap keselamatan masyarakat. Bahkan Fathu Makkah dikenal sebagai peristiwa yang tidak mengakibatkan pertumpahan darah, meskipun pasukan Nabi SAW sudah bersiap, kalau perang harus terjadi.
Ini menunjukkan bahwa tujuan utamanya bukan balas dendam kepada masyarakat anti Islam yang pernah mengusir Nabi SAW dan para pengikutnya secara paksa dari tanah Makkah, melainkan rekonsiliasi dan stabilitas.
Puasa telah membentuk etika di kalangan masyarakat Islam di kala itu di bawah kepemimpinan Nabi SAW sehingga kekuatan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Orang yang terlatih menahan lapar dan haus belajar bahwa kekuatan bukanlah soal melampiaskan keinginan, melainkan mengendalikannya.
Dalam skala individu, ini berarti tidak membalas hinaan dengan hinaan. Dalam skala negara, ini berarti tidak menggunakan kekuasaan untuk menindas atau melanggar kedaulatan pihak lain.
Krisis global hari ini memperlihatkan dua kegagalan besar: kegagalan mengendalikan kata dan kegagalan mengendalikan kuasa. Di media sosial, orang merasa bebas karena tidak melihat langsung wajah yang ia lukai.
Di panggung politik internasional, sebagian pemimpin merasa kebal karena berlindung di balik kekuatan militer atau ekonomi. Padahal, baik kata maupun senjata sama-sama bisa menghancurkan martabat manusia.
Ramadan mengajarkan bahwa peradaban yang sehat dimulai dari disiplin diri. Dunia tidak akan damai jika individu tidak mampu menahan lidahnya.
Dunia tidak akan stabil jika para pemimpin tidak mampu menahan ambisinya. Puasa adalah latihan etis agar kita tidak mudah tersulut, tidak mudah membenci, dan tidak mudah menyerang.
Maka relevansi puasa hari ini bukan hanya spiritual, tetapi juga politis dalam arti moral. Ia menawarkan paradigma alternatif bagi budaya global yang reaktif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Dosen-Fakultas-Tarbiyah-dan-Ilmu-Keguruan-Sulaiman-Mappiasse-Lc-M-Ed-PhD.jpg)