Opini
HMI 79 Tahun: Sampai di Mana Perjuangan?
Keberpihakan apa yang masih dijaga HMI, dan nilai apa yang masih diperjuangkannya di tengah masyarakat Manado yang majemuk ini?
Oleh:
Arhanuddin Salim
Alumni HMI, Dekan FTIK IAIN Manado
HARI ini, Tanggal 5 Februari 2026, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap berusia 79 tahun. Di banyak tempat, usia ini dirayakan dengan seremoni dan nostalgia sejarah.
Namun di Manado, di ruang sosial yang plural, tempat umat Islam hidup sebagai minoritas, usia HMI seharusnya dirayakan dengan pertanyaan yang lebih jujur dan lebih mendasar: masihkah HMI hadir sebagai gerakan moral dan intelektual, atau sekadar bertahan sebagai simbol sejarah?
HMI lahir dari kegelisahan. Lafran Pane mendirikannya bukan untuk mencetak kader yang nyaman, melainkan kader yang resah melihat ketertinggalan umat dan arah republik.
Dari kegelisahan itulah dua tujuan besar HMI dirumuskan: mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat umat Islam.
Pertanyaannya hari ini, terutama di Manado: apakah kegelisahan itu masih hidup, atau telah digantikan oleh rasa aman struktural?
Konteks Manado dan Sulawesi Utara menempatkan HMI pada posisi yang unik sekaligus strategis. Masyarakat hidup dalam keberagaman agama dan budaya.
Relasi lintas iman bukan sekadar wacana, melainkan pengalaman sehari-hari.
Dalam konteks seperti ini, HMI seharusnya tampil sebagai wajah Islam yang dewasa, tenang, dialogis, dan berkeadaban, bukan Islam yang defensif apalagi eksklusif.
Namun refleksi kritis perlu diajukan. Sejauh mana HMI di Manado benar-benar hadir di ruang publik?
Apakah ia aktif membangun dialog, menyuarakan keadilan sosial, dan terlibat dalam isu-isu nyata masyarakat?
Ataukah justru lebih sibuk dengan dinamika internal organisasi dan agenda-agenda seremonial?
Tidak dapat dipungkiri, aktivitas HMI hari ini cukup padat. Struktur berjalan, rapat rutin digelar, kaderisasi terus berlangsung.
Tetapi keramaian organisasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman gerakan.
Di mana diskursus intelektual yang kritis? Di mana keberanian menyampaikan pandangan berbeda ketika berhadapan dengan isu ketimpangan sosial, pendidikan, atau relasi mayoritas-minoritas yang tidak selalu setara?
| Refleksi Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2026: Menjaga Wajah dan Suara Manusia |
|
|---|
| Pertemuan Elite Politik Sulut: Rekonsiliasi atau Kalkulasi Kuasa? |
|
|---|
| Birokrasi Zombie: Mesin Administrasi yang Sibuk tetapi Tidak Produktif |
|
|---|
| Status Tersangka dan Batas Konstitusional Pemberhentian Kepala Daerah |
|
|---|
| Orang Tua: Pendidik Pertama, Utama dan Terlama |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Tulisan-opini-OlehArhanuddin-Salim-Foto-kolase.jpg)