Breaking News
Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Romo Mudji dan Tanggung Jawab Merawat Kemanusiaan

Romo Fransiscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, telah menyelesaikan ziarah hidupnya. Namun ia dengan sadar meninggalkan warisan yang tidak selesai.

Dok. Pribadi
Romo Mudji Sutrisno SJ (1954 - 2025) 

Oleh: 

Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado

ADA kematian yang sekadar menutup usia biologis, tetapi ada pula kematian yang justru membuka ruang permenungan lebih luas tentang makna hidup. Wafatnya Romo Fransiscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ – yang lebih akrab disapa Romo Mudji – termasuk yang terakhir ini. Kepergiannya menghadirkan keheningan yang bukan kosong, melainkan penuh gema. Gema pertanyaan tentang manusia, iman, kebudayaan, keadilan, dan tanggung jawab intelektual di tengah masyarakat yang semakin riuh, namun sering kehilangan arah refleksi.

Kepergian Romo Mudji bukan sekadar duka bagi Gereja Katolik atau dunia akademik, melainkan momen reflektif bagi masyarakat Indonesia. Ia mengingatkan bahwa bangsa ini tidak hanya membutuhkan kecakapan teknis dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kebijaksanaan moral dan keberanian nurani.

Kabar Duka dan Sebuah Kehilangan

Berita duka tentang wafatnya Romo Fransiscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, Pastor Simon Lili Cahyadi, Minggu malam, 28 Desember 2025.

“Para romo, bapak dan ibu sekalian, baru saja ada berita duka. Pastor Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, dipanggil Tuhan malam ini, 28 Desember 2025, pukul 20.43 WIB di RS Carolus Jakarta karena sakit, dalam usia 71 tahun,” ujar Pastor Simon.

Romo Mudji lahir di Surakarta, 12 Agustus 1954. Kepergiannya menutup perjalanan hidup seorang imam, filsuf, dan budayawan yang selama puluhan tahun setia merawat dunia pemikiran kritis di Indonesia.

Sebagian besar publik mengenal Romo Mudji bukan dari panggung popularitas, melainkan dari ketekunan intelektualnya. Ia hadir melalui karya-karyanya—buku-buku filsafat dan kebudayaan, serta esai-esai reflektif yang terbit secara konsisten di Majalah Basis dan berbagai media nasional. Dari sanalah suara khas Romo Mudji dibangun: tenang, jernih, tidak meledak-ledak, tetapi tajam dan mengusik kesadaran.

Ia tidak menggurui, tetapi mengajak berpikir. Tidak memaksakan kesimpulan, tetapi membuka ruang pertanyaan. Dalam dunia media yang sering menuntut opini cepat dan sikap instan, Romo Mudji justru memilih jalan perlambatan: mengajak pembaca berhenti sejenak, menimbang, lalu bertanya lebih dalam. Karena itu, wafatnya Romo Mudji bukan hanya kehilangan sosok, melainkan kehilangan sebuah cara berpikir dan bersikap di ruang publik.

Penjaga Nurani di Ruang Publik

Sebagai imam Serikat Yesus, filsuf, dan budayawan, Romo Mudji menempatkan dirinya di wilayah yang tidak selalu nyaman: ruang publik yang penuh ketegangan antara iman, rasio, budaya, dan kekuasaan. Ia adalah public intellectual dalam pengertian paling substantif – pemikir yang tidak berhenti pada analisis, tetapi berani bersuara demi martabat manusia.

Dalam tradisi Ignatian, ia menghidupi spiritualitas contemplativus in actione – merenung dalam tindakan. Refleksi tidak pernah dilepaskan dari realitas konkret, dan tindakan selalu ditimbang dalam keheningan nurani (Lonergan, 1972). Karena itu, pemikirannya tidak mengawang, tetapi membumi; tidak reaktif, tetapi reflektif.

Di tengah kecenderungan dikotomis yang sering menjebak wacana publik—agama versus budaya, iman versus rasio, tradisi versus modernitas—Romo Mudji memilih jalan dialog. Ia menolak penyederhanaan. Bagi dia, filsafat bukan menara gading, melainkan upaya jujur memahami kenyataan sosial (Mudji Sutrisno, 2010). Teologi bukan dogma beku, melainkan refleksi iman yang menyentuh sejarah manusia (Rahner, 1978). Kebudayaan pun bukan sekadar identitas simbolik, melainkan ruang tempat manusia membangun makna hidupnya (Taylor, 1989).

Iman yang Menyapa Manusia

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved