Opini
Paradoks Kemakmuran dan Air Mata: Memutus Rantai Kutukan SDA demi Pembangunan yang Bermartabat
Investasi harus menjadi pupuk bagi kemakmuran yang berkelanjutan, bukan bahan bakar bagi bencana yang menyengsarakan rakyat.
Kutukan sumber daya alam bukanlah nasib yang tidak bisa diubah. Banyak negara, seperti Norwegia atau Botswana, berhasil mengelola sumber daya alam mereka tanpa menghancurkan masa depan lingkungan dan ekonomi mereka. Kuncinya terletak pada institusi yang kuat: hukum yang tidak pandang bulu, politik yang melayani kepentingan publik (bukan oligarki), dan ekonomi yang berorientasi pada inovasi jangka panjang.
Indonesia berdiri di persimpangan jalan. Jalan pertama adalah business as usual: terus mengeruk, terus menebang, dan menerima banjir tahunan sebagai "new normal", sambil menghabiskan anggaran negara untuk pemulihan yang tiada habisnya. Jalan ini menuju pada kebangkrutan ekologis dan ekonomi.
Jalan kedua adalah transformasi total: menegakkan hukum lingkungan dengan bengis terhadap perusak alam, membersihkan politik dari cengkeraman uang tambang, dan banting setir menuju ekonomi yang kompleks dan lestari. Jalan ini terjal dan penuh tantangan, namun inilah satu-satunya jalan yang menjanjikan kemajuan sejati. Investasi harus menjadi pupuk bagi kemakmuran yang berkelanjutan, bukan bahan bakar bagi bencana yang menyengsarakan rakyat.
Sudah saatnya negara hadir bukan sebagai pedagang sumber daya alam, melainkan sebagai penjaga ruang hidup. Karena pada akhirnya, ekonomi tidak bisa tumbuh di atas tanah yang mati dan tenggelam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Michael-Tukunang-2.jpg)