Opini
Ketika Protes Menyentuh Ranah Privat
Etisnya, protes harus tetap dalam kerangka tanggung jawab kolektif. Amarah boleh menyala, tetapi tidak boleh membakar ranah privat orang lain.
Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti (2020) menulis: “Tanpa keamanan sosial, tidak ada kebebasan sejati.” Pesan ini relevan: kebebasan demonstrasi kehilangan makna jika menciptakan ketakutan pada warga biasa.
Maka, refleksi humanis mengajak kita melihat bahwa setiap lemparan batu ke jendela rumah bukan sekadar kerusakan fisik, tetapi juga penghancuran rasa aman, penghinaan terhadap martabat manusia.
Penutup: Menjaga Batas Antara Protes dan Anarki
Demonstrasi adalah pilar demokrasi. Ia adalah koreksi terhadap kekuasaan, suara nurani rakyat yang tidak boleh dibungkam. Tetapi, protes yang menyerang ranah privat telah kehilangan rohnya.
Seperti diingatkan Bung Karno: “Setiap hak harus diimbangi dengan kewajiban. Setiap kebebasan harus diimbangi dengan tanggung jawab.”
Kebebasan berekspresi bukanlah hak untuk merusak, melainkan hak untuk meyakinkan. Demokrasi hanya akan kuat jika demonstrasi tetap dalam bingkai etika, hukum, psikologi sehat, dan solidaritas sosial.
Maka, batasnya harus jelas: kritik diarahkan pada kekuasaan, bukan pada tetangga. Protes boleh mengguncang istana, tetapi tidak boleh merobohkan rumah rakyat kecil. (*)
demonstrasi
demokrasi
kebebasan negatif
kebebasan positif
psikologi sosial
Agresi
hak atas properti
hak konstitusional
Herkulaus Mety
| Ketika AI Semakin Akurat dari Dokter: Apa yang Terjadi pada Profesi Medis dan Kemanusiaan? |
|
|---|
| Warisan Budaya Tak Benda Harus Diapakan? |
|
|---|
| Catatan Seorang Jurnalis: We Shall Overcome |
|
|---|
| Dari Prestasi ke Dampak: Menguji Arah Baru Digitalisasi Daerah |
|
|---|
| Paskah dari Staurosimon ke Anastasimon, Keniscayaan Kehidupan Kekal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Penjarahan-Rumah-Uya-Kuya.jpg)