Sabtu, 25 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Apa Arti Kemerdekaan bagi Seorang Dosen

Kemerdekaan bukan hanya soal berkibarnya bendera merah putih, melainkan tentang hidupnya akal sehat dalam pikiran rakyat.

Istimewa.
IAIN - Arhanuddin Salim. Saat ini mengabdi sebagai dosen IAIN Manado. 

Bukankah logikanya harus dibalik: semakin tinggi pencapaian akademik seorang dosen, semakin besar penghargaan negara kepadanya?

Kehilangan Ruh Akademis

Lebih menyedihkan lagi, kampus-yang seharusnya menjadi rumah kebebasan intelektual-kini sering terjebak dalam intrik politik internal.

Alih-alih menghidupkan tradisi berpikir kritis dan ruang perdebatan ilmiah, banyak perguruan tinggi justru terseret dalam pusaran perebutan jabatan, kekuasaan, dan kepentingan pragmatis.

Akibatnya, nilai-nilai akademis semakin terkikis. Dosen terpaksa menyesuaikan diri dengan logika politik kampus agar tidak tersingkir, sementara mahasiswa kehilangan teladan tentang apa artinya berpikir bebas.

Ruh akademis-yang seharusnya menjadi jiwa perguruan tinggi-perlahan terpinggirkan. Situasi ini adalah refleksi dari wajah pendidikan Indonesia secara umum.

Pendidikan kita masih lebih menekankan kepatuhan daripada kebebasan, hafalan daripada analisis, rutinitas daripada kreativitas.

Mahasiswa dididik untuk patuh, bukan untuk merdeka. Mereka pandai mengulang teori, tetapi sering gagap ketika ditantang untuk mengolah gagasan sendiri.

Mereka fasih mengutip, tetapi lemah dalam membangun argumentasi.

Padahal, tujuan pendidikan sejati bukanlah menghasilkan robot penghafal, melainkan manusia yang berani berpikir kritis, menantang status quo, dan sanggup mencari solusi atas persoalan bangsanya. 

Selama pendidikan kita hanya menekankan kepatuhan buta, rakyat Indonesia akan tetap mudah dipermainkan.

Mereka akan selalu terjebak dalam janji-janji politik yang kosong, rela membiarkan alam dirusak, budaya dikikis, dan akhirnya tetap terjebak dalam kemiskinan multidimensional-ekonomi, sosial, dan spiritual.

Kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun seolah hanya berhenti pada simbol: bendera, upacara, dan pidato.

Substansi kemerdekaan-yakni kebebasan berpikir, kesempatan berkarya tanpa hambatan birokrasi, serta penghargaan yang layak bagi insan akademis-masih jauh dari kenyataan.

Bagi seorang dosen, kemerdekaan adalah ketika penelitian dihargai, bukan dibebani biaya tinggi; ketika karya ilmiah dipandang sebagai kontribusi, bukan sekadar angka kredit; ketika mengajar tidak hanya soal memenuhi jam SKS, tetapi tentang menyalakan api intelektual dalam diri mahasiswa.

Pendidikan Jalan Kemerdekaan

Jika bangsa ini benar-benar ingin merdeka, maka pendidikan harus kembali pada ruh sejatinya: membebaskan manusia dari kebodohan, ketakutan, dan kemiskinan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 

Otak Dangkal di Lautan Digital

 

Paskah dan Jeruji Besi

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved