Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Catatan Bola

Kiamat

Langkah sang juara bertahan di Euro 2024 Jerman terhenti di babak 16 besar. Tim Azzuri rontok di tangan Swiss dengan skor 2.0.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
HO
Tim Azzuri rontok di tangan Swiss dengan skor 2.0. 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Kiamat ternyata benar - benar terjadi pada 29 Juni 2024.

Tapi sang peramal asal India rupanya memandang terlalu jauh.

Kiamat yang terjadi bukan berupa kehancuran kosmik berbareng penghakiman terakhir.

Tapi hanya kiamat bagi Italia.

Tepatnya tim sepakbolanya. 

Langkah sang juara bertahan di Euro 2024 Jerman terhenti di babak 16 besar.

Tim Azzuri rontok di tangan Swiss dengan skor 2.0.

Italia pernah digebuk oleh tim Korea Selatan pada Piala Dunia 2002, hal yang mengakhiri kesukaan saya pada tim ini.

Tapi kehancuran Italia kala itu lebih akibat faktor X berupa wasit.

Kiamat Italia di Euro 2024 akibat faktor dalam tim sendiri.

Permainan mereka betul - betul rusak.

Build up macet. Umpan tak jelas. Tak ada pressing. Pemain malas bergerak.

Lini belakang kedodoran. Lini tengah tak punya ide. Dan lini depan terisolasi.

Bayangkan saja, di laga sepenting versus Swiss, hanya satu shot on goal yang tercipta.

Materi timnas Italia memang semenjana.

Tak ada lagi nama - nama macam Verrati, Chielini, Bonucchi, Tonali, Pallegrini dan Insigne.

Mungkin akan lain ceritanya jika Luciano Spalleti seorang Machiavellian.

Ia bisa dengan materi pas-pasan itu menciptakan taktik jitu sekalipun kotor untuk meraih kemenangan.

Sayangnya, ia hanyalah seorang papa Gepeto. 

Kemampuannya sebatas mengubah kayu jadi boneka Pinokio. Bukan manusia. 

Komentarnya menyedihkan.

"Kita memang kalah kelas dari Swiss,".

Jika 2002, seluruh Italia mencaci wasit dan Ahn Jung Wan. 

Kini semesta Italia mencaci "Papa Gepeto".

Media nasional Italia menyebut kekalahan Italia sebagai bencana nasional.

Padahal biasanya media disana suka merancang cerita konspirasi saat Italia kalah.

Ini adalah puncak kehancuran Italia.

Selama satu dekade ini, pemain besar tak lagi muncul dari sana. 

Nama - nama besar macam Roberto Baggio, Allesandro Del Piero, Fransesco Totti, Christian Vieri, Franco Baresi, Paolo Maldini, Giuseppe Signori, Daniele Massaro, Antonio Cassano, Vincenzo Montella dan lainnya tak lagi muncul.

Yang menyedihkan adalah "Italia semenjana" ini kalah dari Swiss yang lima pemain intinya berlaga di liga Italia. Inilah masalahnya. 

Invasi pemain asing membuat bakat muda Italia mati. Kurikulum Primavera juga dituding sejumlah pihak jadul alias tak sesuai zaman.

Saya hanya berharap agar tidak ada kiamat selanjutnya.

Tim Inggris yang hampir mirip Italia di EURO 2024 jangan kalah dulu. (Arthur Rompis)

 

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved