Opini
Mengenal Diri Ditengah Polusi Digital
Saya menceritakan bahwa saat saya menjadi mahasiswa, teman-teman angkatan saya dahulu (angkatan 2010).
Saat saya mahasiswa, sehari sebelum presentasi tugas, saya akan belajar bukan hanya makalah yang saya buat, tetapi juga isu-isu relevan yang berkaitan dengan topik diskusi agar tidak terjadi kesulitan dalam mendiskusikan maupun memecahkan suatu masalah terkait tema yang didiskusikan.
Yang saya khawatirkan, hari ini, dengan adanya “polusi teknologi”, bukan hanya semakin membuat siswa/mahasiswa tidak dapat berfikir secara disiplin dan mandiri, melainkan apa yang sesungguhnya menjadi cita-cita dan tujuan mereka sebagai “mahasiswa”, apa artinya menjadi mahasiswa, pada akhirnya menjadi kabur. Pernyataan ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin mengingat hari ini, bahkan mahasiswa sendiri menggunakan bantuan teknologi untuk urusan-urusan yang terkait dengan kemampuan akademiknya sendiri.
Di tulisan saya sebelumnya yang telah tayang di tribun manado dengan judul “Moderasi Beragama dan Tantangan AI”, telah didiskusikan bagaimana kekuatan algoritma dan AI akan semakin dahsyat dengan tingginya intensitas manusia dalam berselancar di Internet. Semakin sering manusia mengakses internet, maka algoritma dan AI akan semakin kuat untuk melakukan analisis dan pengambilan keputusan.
Jika kita melihat orang-orang di luar sana yang terpapar polusi teknologi yang dibuktikan dengan semakin jauhnya orang-orang tersebut dengan diri sendiri dan orang-orang sekitar, mudah-mudahan paparan “polusi teknologi” tidak akan pernah terjadi di lingkungan lembaga pendidikan dan dunia akademik.
Justru sebaliknya, dunia akademik dan lembaga pendidikan sebagai produsen pengetahuan untuk memberikan kebermanfaatan sebesar-besarnya untuk masyarakat, perlu menjadi garda terdepan dalam mengkampanyekan tentang pentingnya mengenal diri sendiri dan lingkungan sekitar di tengah polusi teknologi yang semakin tak terkendali.
Ungkapan yang sangat masyhur di kalangan praktisi tasawuf Islam, man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu (Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya), sangat diperlukan di era “polusi digital” di mana teknologi semakin mengaburkan eksistensi penggunanya sebagai manusia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling istimewa di Bumi dibanding makhluk lainnya. (*)
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Abdul-Muis-Daeng-Pawero-MPd-Foto-kolase-baru.jpg)