Opini
Mengenal Diri Ditengah Polusi Digital
Saya menceritakan bahwa saat saya menjadi mahasiswa, teman-teman angkatan saya dahulu (angkatan 2010).
Oleh:
Abdul Muis Daeng Pawero, M.Pd
(Dosen FTIK IAIN Manado)
TULISAN ini hanyalah notifikasi untuk pembaca terkait teknologi yang mungkin terlewatkan. Bahwa kesadaran manusia akan eksistensi serta tujuan hidupnya perlu terus dijaga, sambil menyadari bahwa dialah sesungguhnya yang memanfaatkan teknologi, bukan secara tidak sadar malah dimanfaatkan teknologi.
Harus diakui, bahwa manusia, apapun profesinya tidak akan pernah terlepas dari teknologi. Paparan teknologi dan komunikasi akan terus menjangkiti Manusia modern yang hidup di kota maupun di desa. Diksi “menjangkiti” yang penulis cantumkan memang pada umumnya hanya ditemui pada tulisan-tulisan maupun penjelasan tentang wabah penyakit. Namun, sebagaimana yang akan kita lihat dalam tulisan ini, teknologi juga merupakan “penyakit” jika manusia yang menggunakannya tidak dapat mengetahui tujuan sesungguhnya dari penggunaan teknologi.
Pernahkah pembaca yang budiman melihat seseorang yang sibuk dengan smartphone dibanding dengan orang-orang di sekelilingnya? Jika pembaca berprofesi sebagai dosen, pernahkah mengalami suatu peristiwa saat diskusi di dalam kelas, mahasiswa yang terlibat diskusi lebih mengandalkan smartphone dibandingkan dengan gagasannya sendiri? Alih-alih mencoba berfikir secara mandiri untuk memecahkan masalah dalam suatu topik diskusi, mereka lebih mengandalkan google dan bantuan Artifisial Intelegensi yang bernama ChatGPT.
Suatu ketika, dalam suatu pembelajaran di kelas, saya melakukan jeda pembelajaran dan memilih untuk berdiskusi tentang Artificial Intelegensi. Saya menceritakan bahwa saat saya menjadi mahasiswa, teman-teman angkatan saya dahulu (angkatan 2010) merupakan mahasiswa yang menyukai berfikir secara mandiri. Hal ini karena memang di zaman itu, perkembangan teknologi belum se-mengerikan seperti sekarang ini.
Saat saya menanyakan pandangan mahasiswa tentang meminta bantuan AI dalam diskusi kelas, mereka mengatakan bahwa “biasanya jawaban yang disediakan AI jauh lebih akurat dibandingkan dengan apa yang kami sampaikan”. Tiba-tiba saya merinding mendengar jawaban itu.
Aktivitas Manusia yang lebih fokus pada smartphone dibanding dengan orang-orang di sekelilingnya, hingga ketergantungan mahasiswa kepada AI dalam setiap tugas yang diberikan dosen, menunjukkan sesuatu yang membuat saya merinding. Orang-orang itu yang harusnya memanfaatkan teknologi, tapi kenyataannya, merekalah yang dimanfaatkan teknologi. Manusia yang mestinya sebagai subjek teknologi, berubah menjadi objek.
Orang-orang yang “dimanfaatkan” oleh teknologi, jika dikemukakan di zaman saya kuliah dulu, terdengar seperti lelucon yang mengerikan. Tapi, saat ini hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Dan tanda-tandanya telah terlihat sejak seseorang lebih mementingkan smartphone nya dibandingkan orang terdekat yang ingin berbicara dengannya.
Lalu, bagaimana dengan mahasiswa yang menggunakan bantuan AI saat tengah mendiskusikan satu isu kontemporer dalam salah satu topik perkuliahan? Bagaimana seharusnya Dosen menyikapinya?
Jika merujuk pada kurikulum merdeka belajar yang juga belum sepenuhnya diterapkan dan mulai berganti dengan kurikulum berbasis OBE (Outcome Based Education), metode perkuliahan maupun penugasan yang harus dilakukan Dosen adalah demi kepentingan mahasiswa, di mana mereka dituntut untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah. Dalam kurikulum perguruan tinggi, ini dikenal dengan HOTS atau Higher Order Thinking Skills, yakni kemampuan mahasiswa untuk berpikir tingkat tinggi yang melibatkan analisis, evaluasi, dan kreasi.
Sebagai Dosen, kita mungkin bisa mengambil kebijakan untuk memerintahkan mahasiswa agar mematikan HP, atau bahkan menyita HP saat proses perkuliahan berlangsung. Namun, apakah kebijakan tersebut dapat menjamin putusnya ketergantungan mahasiswa terhadap smartphone dan teknologi AI? Lantas, strategi perkuliahan seperti apakah yang sebaiknya dilakukan? Bagaimana caranya meningkatkan chritical thinking sebagai cita-cita yang dirumuskan kurikulum MBKM maupun OBE di tengah paparan teknologi dan Artifisial Intelegensi (AI) yang semakin menggila?
Empat belas tahun yang lalu, pada tahun 2010 - 2014 saat saya kuliah S1 di STAIN Manado (kini IAIN Manado) hingga melanjutkan studi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 2015-2017, Saya tidak pernah membayangkan realitas mahasiswa angkatan tahun 2020-an yang kian dikuasai smartphone, dan menggantungkan proses pengembaraan akademiknya pada teknologi AI. Lantas, seperti apa tampilan maupun tipikal mahasiswa setidaknya 10 tahun yang akan datang?
Dalam konteks pendidikan, Segala bentuk kemudahan serta fasilitas yang telah disediakan oleh teknologi melahirkan dilema besar bagi para guru maupun Dosen yang dulunya menempuh pendidikan dengan mengandalkan kedisiplinan dan kemandirian berfikir. Di satu sisi teknologi dapat memudahkan siswa/mahasiswa untuk mengakses referensi, di sisi lain terdapat kekhawatiran akan dampak teknologi yang memanjakan mahasiswa sehingga semakin tidak memiliki kemampuan untuk berfikir secara mandiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Abdul-Muis-Daeng-Pawero-MPd-Foto-kolase-baru.jpg)