OPINI
Dari Salam untuk Toleransi
Tulisan ini merespon hasil forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI yang memutuskan bahwa mengucapkan salam lintas agama bukan implementasi dari toleransi.
2. Dimensi Sosial
Pada dimensi ini, salam diucapkan untuk saling menyapa antar sesama manusia, maka ragam salam akan ditemukan, baik karena keyakinan beragama maupun suku bangsa yang beragam.
Pada konteks ini, bisa dipastikan bila pertemuan antar umat seagama ada harapan dan doa dari salam yang diucapkannya.
Tapi bila dengan umat yang berbeda atau adat suku bangsa yang berbeda, maka salamnya berfungsi untuk menunjukkan keramah tamahan sebagai sesama manusia.
Sekaligus manifestasi dari ke-Maha Pengasih dan Penyayangnya Tuhan untuk seluruh umat manusia sebagai ciptaan-Nya.
Maka pada konteks ini, keindahan kontak sosial begitu nampak, sehingga salam yang dilarang adalah salam kebencian dan caci maki.
3. Dimensi Seremonial
Pada dimensi ini, salam diucapkan pada acara-acara resmi, sehingga bila pertemuan resmi dilakukan oleh satu kelompok agama atau adat, tentu salam milik merekalah yang digunakan.
Namun ketika pertemuan dilakukan oleh masyarakat yang majemuk dan multikultur serta multiagama tentu dibutuhkan ucapan salam yang membuat satu sama lain senang dan bahagia karena merasa keberadaannya diakui dan tentunya dihormati, sehingga pilihan yang paling mudah adalah salam lintas agama.
Pertanyaannya, adakah unsur 'ubudiyah di dalamnya?
Menurut hemat kami tidak, karena tujuan utamanya (al-ghayah wa an-niyyah) adalah menuntaskan giat seremonial demi kepentingan toleransi yang mewujud menjadi rasa damai dan aman.
Lalu adakah dalil atas dimensi ketiga ini?
Sebelum menjawabnya, sepertinya perlu disatukan frekuensi terlebih dahulu tentang kapan awal mula pelembagaan salam di dunia lalu menformalkannya sehingga ia dapat di klaim milik satu agama saja sehingga agama lain tidak boleh membuat salam yang sama karena akan terkena hukum plagiasi dan melanggar Hak Paten.
Untuk menjawab ini kami kira cukup rumit karena minimnya data-data faktual dan ilmiah, sehingga kedepan dibutuhkan riset khusus atas masalah tersebut.
Namun secara budaya, tiga agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam) memiliki akar bahasa yang sama dalam penyampaian salam, yakni 'salām' dan 'shalom'.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.