Hikmah Ramadhan
Mudik : Dari Perjalanan Ritual ke Spiritual
Mudik tak selalu memiliki makna atau dimaknai secara ruhani. Kadang kala ia hanya menjadi sebuah ajang unjuk keberhasilan yang telah dicapai.
Maka, kampung halaman yang penuh dengan romantika masa lalu dan penuh makna menjadi sirna digantikan ajang pameran kekayaan dan kesukesan yang bisa jadi semua itu berisi kepalsuan untuk membuat warga kampung mengakui kesuksesannya, serta mengaku bahwa dirinya miskin dan papa dibandingkan para perantau yang ‘sukses’ itu.
Mudik yang seperti inilah yang bisa membawa penyakit sosial dan memancing cemburu bagi warga kampung yang dimudiki.
Mudik yang tak-ber dan dimaknai inilah yang secara perlahan menggeser budaya adilihung yang ada di kampung. Pameran dan ajang keberhasilan materiil tanpa disadari secara perlahan menjadi inspirasi bagi anak kampung di musim mudik.
Kemudian terjadilah pergeseran pandangan bagi warga kampung, -dari yang sebelumnya anak-anak menghormati para guru, orang tua, guru ngaji, dan menjaga tali silaturrahim- pada kebiasaan mendatangi dan mendengarkan bualan para perantau, kesuksesan materiil mereka.
Pada akhirnya secara taksadar ‘keberhasilan’ dan ‘kesuksesan’ yang diraih itu dilegitimasi sebagai asas pengakuan atas ‘kemanusian’ seseorang.
Hal itu terlihat dari predikat yang disematkan orang kampung pada orang-orang ‘sukses’ dan ‘kaya’ itu yaitu “uwes dhadi wong”, artinya meraka yang sukses dan kaya itulah yang kemudian layak disebut sebagai manusia.
Mudik ke Asal Mula
Di atas telah disebut bahwa rindu dan keinginginan untuk kembali pada asal mula adalah fitrah manusia. Mudik adalah cerminan dari fitrah itu.
Tetapi, benarkah kampung halaman tempat kita lahir dan tumbuh besar adalah tujuan mudik sejati?.
Tidak. Mudik hanyalah cerminan sekaligus ruang mencari makna untuk bekal kita mudik yang sejati dan abadi. Sudahkah kita merindukan untuk mudik yang sejati dan abadi itu?
Setelah kita sampai di kampung halaman, cobalah kita perhatikan di kiri dan kanan kita. Periksa orang-orang yang kita cintai: ayah-ibu, guru, saudara, kekasih, tetangga, sahabat dan yang lainnya.
Adakah di antara meraka yang tidak bisa berkumpul dan bergabung merayakan idul fitri bersama kita? ke manakah orang tua kita yang tahun lalu masih menyambut uluran tangan kita dengan tangis bahagia? Ke manakah sudara dan tetangga yang tahun lalu gelak tawa bahagianya masih kita lakukan bersama? Kemanakah teman dan sahabat kita yang lalu masih sempat mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin” pada kita?
Di antara meraka ada yang tidak bisa bersama kita lagi, karena meraka telah mendahului kita melakukan mudik sejati dan abadi ke pada-Nya. Pada asal dari segala yang ada. Sebuah mudik yang pada saatnya kita juga akan melakukan tanpa kita ketahui kapan waktunya dan tanpa ditanya apakah kita sudah melakukan persiapan bekal yang cukup atau tidak?
Jika kita sudah persiapkan dengan bekerja sepanjang tahun untuk melakukan mudik yang hanya beberapa hari, apakah kita juga sudah persiapkan untuk perjalanan mudik yang tak terhingga? Jika kita sudah bekerja keras mengahabiskan masa muda untuk bekal di masa tua yang tak seberapa lama, sudahkan kita persiapkan bekal yang cukup untuk menuju mudik yang sangat panjang, setelah kematian kita? mudik yang bekalnya bukan kekayaan dan kesuksesan karier yang menjulang.
Bagi para perantau, melepas rindu ke kampung halaman ternyata membutuhkan bekal materi dan mental, karenanya tidak semua orang berani mudik.
Pesona kampung halaman bisa saja menjadi sangat menakutkan untuk didatangi karena ragam pertanyaan bisa saja diajukan oleh para sanak saudara mulai dari tentang pekerjanaan, penghasilan, pengalaman, bahkan sampai pasangan hidup (bagi yang masih jomlo), dan lain sebagainya.
Mereka yang tidak siap dengan ragam pertanyaan tersebut biasanya tak tahan berlama – lama dan ingin segera kembali lagi ke rantau. Inilah barangkali yang akan kita alami saat mudik sejati tanpa membawa bekal yang cukup, kata al-Quran kategori seperti ini akan menyesal dan berkata “Yaa tuhan kami, beri kami kesempatan kembali kedunia walau sesaat, niscaya kami akan memenuhi panggilan Mu dan mengikuti perintah rosul Mu”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Rusdiyanto-Dosen-Prodi-Sejarah-Peradaban-Islam-IAIN-Manado.jpg)