Hikmah Ramadhan
Mudik : Dari Perjalanan Ritual ke Spiritual
Mudik tak selalu memiliki makna atau dimaknai secara ruhani. Kadang kala ia hanya menjadi sebuah ajang unjuk keberhasilan yang telah dicapai.
Oleh:
Rusdiyanto
Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Manado
TRIBUNMANADO.CO.ID - Musim mudik telah tiba. Kebiasaan yang telah terjadi sejak entah kapan itu menjadi pesona budaya unik yang dimiliki umat Islam negeri ini setiap hari Raya.
Istilah mudik-mengutip tulisan Zawawi Imron- berasal dari kata ‘udik’ yang berarti bagian sungai yang ada di bagian hulu atau dusun yang jauh dari kota.
Dalam praktek sehari-hari, kata mudik sama maksudnya dengan pulang kampung.
Keinginan atau kerinduan untuk kembali pada asal merupakan fitrah yang ada dalam diri manusia, karenanya sebagaimana kata judul sebuah novel “Seperti dendam, Rindu harus dibayar tuntas”.
Kampung halaman sebagai tempat lahir dan tumbuh besar pastilah mengandung aneka kenangan yang sesekali untuk menikmati kenangan itu hanya bisa dilakukan dan dirasakan dengan mendatanginya kembali.
Itulah mengapa, meski mudik harus berdesakan, bermacet-macet, dan berbiaya lebih mahal para perantau itu rela melakukannya demi melepas kerinduan yang terpendam pada ‘masa lalu’ yang menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
Kalau sesekali kita bisa meluangkan waktu menikmati panorama wisata di kota-kota atau bahkan ke mancanegara, maka tiada salahnya jika sekali waktu berwisata ke kampung halaman yang menyimpan kisah masa lampau pribadi kita yang di sana mengandung makna sangat penting bagi diri dan keluarga kita.
Bagi mereka yang berkampung di pegungungan: desiran angin di bawah pepohonan yang rindang dan nyanyian burung yang dinikmatinya di masa kecil bisa menjadi salah satu alasan kerinduan, sebagaimana mereka yang berkampung di pesisir yang merindukan kicauan ombak yang telah lama tak dirasakan.
Tetapi, melebihi alasan itu kerinduan untuk menjumpai orang tua, berkumpul bersama sanak saudara, berjumpa dengan para tetangga adalah alasan utama mengapa perantau itu mudik.
Dari budaya mudik ini, kita bisa belajar bahwa gemrelap kota rantau dan keindahannya yang jauh dari kampung halaman sekali waktu bisa berubah menjadi tak indah dan tak betah untuk ditinggali ketika kerinduan pada asal mula merasuk dalam jiwa.
Kita pun bisa belajar, bahwa kita punya asal mula yang pada suatu kapan kita pasti kembali padanya. Inilah makna ruhani dari mudik.
Bukan Ajang Pamer
Tetapi, mudik tak selalu memiliki makna atau dimaknai secara ruhani. Kadang kala ia hanya menjadi sebuah ajang unjuk keberhasilan yang telah dicapai di perantauan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Rusdiyanto-Dosen-Prodi-Sejarah-Peradaban-Islam-IAIN-Manado.jpg)