Putus Sekolah
Penjelasan Sosiolog Terkait Tingginya Angka Putus Sekolah di Sulawesi Utara
Angka putus sekolah di Sulawesi Utara cukup tinggi. Faktor penyebabnya bisa datang dari internal (keluarga) maupun eksternal.
Penulis: Mejer Lumantow | Editor: Isvara Savitri
TRIBUNMANADO.CO.ID, MINAHASA - Sosiolog Sulawesi Utara, Prof Dr Ferdinand Kerebungu MSi, ikut prihatin dengan tingginya angka kasus siswa yang putus sekolah di Sulut.
Menurutnya, data putus sekolah siswa SMA/SMK yang cukup tinggi perlu menjadi PR pemerintah dan institusi pendidikan di Sulawesi Utara.
"Memang jika diperhatikan tingginya angka putus sekolah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal keluarga maupun eksternal keluarga," kata dosen Pendidikan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Manado ini.
Ia menjelaskan, faktor internal keluarga paling banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi (pekerjaan tetap) dan faktor pendidikan keluarga.
"Nah faktor ekonomi ini yang paling berpengaruh terhadap putusnya siswa-siswa SMA/SMK, walaupun biaya pendidikan sebagian besar sudah ditanggung oleh pemerintah lewat dana BOS atau Kartu Pintar," jelas Prof Ferdinand.
Namun, permasalahan yang ada ialah SMA/SMK paling dekat ada di kecamatan, sehingga anak usia sekolah peda tingkat SMA/SMK harus meninggalkan desanya.
Baca juga: Chord Satu Tuju - Mahalini Feat Rizky Febian
Baca juga: Alasan Politisi Golkar Erwin Aksa Laporkan Petinggi PPP Romahurmuziy ke Polisi
"Artinya harus tinggal di kosan, membutuhkan biaya tambahan yaitu biaya kos, biaya makan, dan lainnya. Artinya jika biaya ini tidak mampu dipenuhi maka mempengaruhi putus sekolah," terang Prof Ferdinand.
Di sisi lain, pendidikan orang tua juga merupakan faktor yang mempengaruhi putus sekolah.
"Hal ini dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat bahwa sekolah harus jadi ASN. Padahal pendidikan itu bermanfaat, membuka wawasan pemikiran anak-anak untuk melihat tantangan masa depan yang akan dihadapi," bebernya.

Sementara itu, faktor eksternal tiga tahun terakhir banyak dipengaruhi kasus Covid-19, yang menyebabkan banyaknya pemutusan kerja dan lapangan kerja terbatas.
"Masalah pekerjaan di masa Covid-19 banyak dikuasai mereka yang menguasai teknologi, karena sistemnya bersifat online.Selain itu, lapangan kerja sangat terbatas kepada mereka yang memiliki keterampilan khusus," paparnya.
Oleh sebab itu, Prof Ferdinand menyebut kedua faktor utama itu (internal dan eksternal) yang mempengaruhi tingginya angka putus sekolah.
Tahun 2022, 818 Siswa di Kota Manado Putus Sekolah |
![]() |
---|
Pasca Sang Ayah Lumpuh, 2 Kakak Chairil Ento Pilih Minggat dari Rumah, Sang Ibu Menikah Lagi |
![]() |
---|
Lumpuh dan Diurus Sang Anak, Rahman Ento Hidup dengan Bergantung Belas Kasih Tetangga |
![]() |
---|
Strategi Dinas Pendidikan Kota Manado Akomodir Siswa yang Hamil |
![]() |
---|
Sang Anak Putus Sekolah, Rahman Ento Ngaku Baru Didatangi Dinsos Manado Setelah Viral di Medsos |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.