Opini
Orang Kristen Inklusif atau Eksklusif?
Bahwa Orang Kristen dari sononya alias pada dasarnya atau pada hakekatnya atau sejatinya adalah Eksklusif, lain dari pada yang lain.
Jadi sebagai pandangan hidup Kristiani yang di jalani; ingat lagi ayat utama kita di atas [”cerdik seperti ular, tulus seperti merpati]. Tetapi sejatinya seperti Guru dan Tuhannya, ia tetap eksklusif. Sebagaimana ajaran utamanya yang juga telah kita kutip di atas: “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”
Jadi tidak bertentangan antara kedua ayat ini. Yang pertama ada mengandung ‘’inklusifitas’’ – sebagai siasat, sebagai orang-orang yang diutus ke dunia ini. Sedangkan yang berikutnya adalah yang sejatinya.—Orang Kristen yang menjadi terang dan garam dunia. Oleh sebab itu harus lain dan berbeda dari dunia ini. Alias tidak menjadi serupa dengan dunia ini. [Tetap Eksklusif].
Memang kita Orang Kristen “yang sejati” – yang diutusNya ke dalam dunia ini menjalani hidup yang tidak mudah, murah, dan gampangan. Bk. Nabi Elia, “manusia biasa” yang percaya dan setia [Yak.5:17], yang menjadi utusanNya menghadapi Raja Ahab dan Izebel, serta Orang Israel yang telah bercabang hatinya. Di tengah semuanya itu—[dunia di mana ia diutus]—telah menghadapi kesukaran bahkan ancaman jiwanya. Tetapi akhirnya diangkat oleh Tuhan. Amin. (Opini)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/renungan-harian-kristen-rela-menderita-orang-kristen-sejati-pasti-melewati-penderitaan.jpg)