Senin, 1 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Orang Kristen Inklusif atau Eksklusif?

Bahwa Orang Kristen dari sononya alias pada dasarnya atau pada hakekatnya atau sejatinya adalah Eksklusif, lain dari pada yang lain.

Tayang:
Editor: Aldi Ponge
Istimewa
Ilsutrasi : Orang Kristen Inklusif atau Eksklusif? 

Penulis Opini Jacobus H Tandiapa, Warga Kristen di Minahasa

TRIBUNNMANADO.CO.ID - Jawab dari pertanyaan tersebut dengan tegas dan segera saya jawab dengan jawaban berikut. Bahwa Orang Kristen dari sononya alias pada dasarnya atau pada hakekatnya atau sejatinya adalah Eksklusif, lain dari pada yang lain.

Tegasnya lain daripada dunia ini yang dipanggil untuk masuk menggarami dan menerangi dunia yang gelap, menuju kebinasaan ini (lihat antara lain Mat. 5:13,14,16; Yoh. 8:34; Rom. 3:23; 5:12; 6:23; 14:23-akhir).

Perkataan ‘dari sononya' atau sejatinya, saya jelaskan ‘pertama’ meskipun bukan yang terutama, dan satu-satunya dari asal mula perkataan Kristen itu.

Perkataan ini terdapat di dalam Kisah Para Rasul yang bunyinya sebagai berikut:  “Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” (Kis. 11:26. Perlu dicatat, yang lebih utama adalah teladan Yesus Kristus).

Perkataan yang diucapkan orang-orang sekitar untuk para murid Kristus ini adalah sebagai “gelar” atau sindiran [nickname; julukan]; sebagai “those Christian” [orang-orang Kristen itu] yang lain daripada yang lain. Atau lain dari “dunia” yang selama ini mereka ketahui. Bisa dikatakan “aneh” suatu kehidupan baru; jelasnya suatu ajaran baru yang diperagakan. [Bk. Mrk.1:27].

Rasul Paulus sendiri, setelah dibaharui dan ditangkap dan dipakai oleh Tuhan Yesus, setelah kebangkitan dan kenaikanNya ke sorga.—Dengan tegas dan jelas mengatakan hal ini, di dalam surat kirimannya kepada jemaat di Roma: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” [Rom. 12:2].

Dan kembali kepada Tuhan Yesus, sumber kehidupan baru dan sumber dari ajaran baru yang kita Orang Kristen jalani itu [teladan kita itu].

Dikatakan-Nya: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” [Mat. 10:16].


“Seperti domba.” Jelas menunjukkan kehidupan yang terpisah, penurut dan dengar-dengaran kepada Gembala Agung. Lebih dari orang  asing, orang sekitar, atau “orang upahan” [baca, pengajaran sesat] yang tidak mereka kenal. [Baca, Yoh.10:1-16; Ef.4:11-16].

Domba, lemah dan penurut, hanya bergantung kepada gembalanya. Megambarkan  Orang Kristen murid Kristus [Bk. Mat. 25:32]. Tetapi serigala, buas, pemangsa, licik, liar dan kejam; menggambarkan dunia, ke mana  Orang Kristen itu diutus. Yaitu Dunia yang tidak mengenal Allah yang benar dan satu-satunya. [Yoh. 17:3-lihat lagi ayat ini yang diulang di bawah].

Oleh karenanya—sekali lagi—“harus cerdik seperti ular, namun tulus seperti merpati.” [Bk. Suatu berita-feature RRI mengenai kepahlawanan burung merpati pada zaman revolusi, yang diangkat sebagai “Letnan Merpati Pos” karena pengorbanan dan kesetiaannya yang tulus].

Diutus Ke Dalam Dunia

Di dalam doaNya di dalam Injil Yohanes yang baru kita kutip tadi, Tuhan Yesus mengatakan: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.” [Yoh. 17:18].

Tuhan Yesus telah diutus Bapa di sorga, Allah Bapa Yang Maha Kuasa. Ini seperti yang dikatakannya di dalam banyak firman pengajaran atau injilNya. Salah satunya seperti yang baru kita kutip. [Diutus Bapa, kemudian mengutus murid-muridNya; yang kemudian disebut Orang Kristen].

Jelasnya sejak bagian awal doanya itu telah dikatakanNya: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”.

Kemudian pada ayat delapan dikatakanNya lagi: “Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepadaKu telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar, bahwa Aku datang dari padaMu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” [17:3,8].

Baru kemudian menyusulnya ayat delapanbelas tadi, yang telah kita jadikan “leading thema” sub-judul tersebut di atas. [Untuk itu lihat lagi seperti: Mat. 21:37; Yoh. 6:38; 7:29; 8:42; 9:4; 10:36].

Oleh karena Ia telah diutus ke dalam dunia ini menjadi Imanuel [Allah Beserta Kita] bagi kita orang berdosa yang kemudian dipulihkanNya dari keberdosaan itu.

Maka Ia telah disebut juga sebagai “Friend of Sinners” – “Sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” [Mat. 11:19]. Jelaslah hal ini, sebagaimana yang telah dikatakanNya di dalam pengajaranNya yang tegas sebagai berikut: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” [Mat. 9:12].

Sebab itu di dalam tulisan saya “Sudah Adakah Tempat Bagimu Di Surga ?” [TRIBUN MANADO 15/05/2018]. Saya telah mengatakan seperti berikut: “Tuhan Yesus sendiri disebut sahabat orang berdosa [‘inklusif’- menyatu ke mana Ia diutus].—Tetapi sekalipun di atas salib, ketika menanggung dosa dunia, Ia tetap spesial, lain dari pada yang lain, tidak menjadi sama seperti orang berdosa.” Ia tetap Juruselamat Dunia, Penebus Dosa; Nama di atas segala nama. [Tetap Eksklusif].

Jalan Salib

Maka jelaslah, Orang Kristen sebagai murid-muridNya yang diutusNya ke dalam dunia ini. Harus pula menjadi serupa dengan Guru dan Tuhannya. “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada  tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.” [Mat. 10:24-25].

“Eksklusif” di sini, meskipun kita memang lain dari pada yang lain. Namun bukan berarti “aneh” makhluk dari luar angkasa misalnya. Layaknya malaikat yang bukan manusia yang hidup di bumi dan di dunia ini.

Memang di atas tadi telah kita katakan dari mulanya kata KRISTEN itu, berarti  atau berkonotasi “aneh” – lain dari dunia sekitar. Namun inti dan penekanannya di sini adalah mengenai pandangan hidup yang dijalani.—Berbeda dari pandangan hidup dunia—arus besar; main stream—yang umum dan biasa dijalani dunia ini. [Bk. I Yoh. 2:15-17; 5:19].

Rasul Paulus di dalam suratnya [I Kor. 9:19-23] dengan jelas mengatakan ini.—Ia ‘’inklusif’’ menyatu dengan dunia ini, di mana ia “diutus”: “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.

Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.”

Jadi semata untuk memenangkan panggilan Injil yang diembannya atau yang dihidupinya [maka ia bisa, bahkan harus inklusif]. Sebagai “manusia baru” yang telah ditangkap dan dipakai oleh Tuhan Yesus, menggantikan Yudas yang telah menghianitiNya. Dalam mana ia hidup, namun bukan dia lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam dia. [Gal. 2:20].

Jadi sebagai pandangan hidup Kristiani yang di jalani; ingat lagi ayat utama kita di atas [”cerdik seperti ular, tulus seperti merpati]. Tetapi sejatinya seperti Guru dan Tuhannya, ia tetap eksklusif. Sebagaimana ajaran utamanya yang juga telah kita kutip di atas: “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”

Jadi tidak bertentangan antara kedua ayat ini. Yang pertama ada mengandung ‘’inklusifitas’’ – sebagai siasat, sebagai orang-orang yang diutus ke dunia ini. Sedangkan yang berikutnya adalah yang sejatinya.—Orang Kristen yang menjadi terang dan garam dunia. Oleh sebab itu harus lain dan berbeda dari dunia ini. Alias tidak menjadi serupa dengan dunia ini. [Tetap Eksklusif].

Memang kita Orang Kristen “yang sejati” – yang diutusNya ke dalam dunia ini menjalani hidup yang tidak mudah, murah, dan gampangan. Bk. Nabi Elia, “manusia biasa” yang percaya dan setia [Yak.5:17], yang menjadi utusanNya menghadapi Raja Ahab dan Izebel, serta Orang Israel yang telah bercabang hatinya. Di tengah semuanya itu—[dunia di mana ia diutus]—telah   menghadapi kesukaran bahkan ancaman jiwanya. Tetapi akhirnya diangkat oleh Tuhan. Amin. (Opini)

 

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved