Memahami Beragam Faktor Keterlibatan Perempuan dalam Pusaran Aksi Terorisme
Riset menunjukkan bahwa perempuan punya peran sangat vital dalam organisasi teroris, menjadi ahli propaganda, terlibat perekrutan, pengumpul dana.
Perempuan pelaku terorisme sering dibuai oleh romantisme keagamaan masa lalu.
Dalam konteks Islam, salah satunya adalah romantisme sistem khilafah.
Ada kecenderungan, perempuan bukan lagi dijebak pada aksi terorisme, tetapi memang menjadi agensi penting karena memiliki keyakinan atas apa yang dia lakukan.
Namun, Musdah mengingatkan, ideologi semacam itu bukan monopoli Islam, karena juga ada dalam agama lain seperti Kristen dan Buddha.
Dalam kajian yang dia lakukan, Musdah menemukan fakta bahwa perkawinan kadang dimanfaakan untuk tindak terorisme ini.
Pada kondisi semacam itulah, kesetiaan perempuan terhadap apa yang dilakukannya bisa lebih besar dibanding laki-laki.
“Perempuan biasanya kalau sudah didoktrin seperti itu, baik oleh ayahnya, oleh suaminya atau imamnya, bisa mengalahkan loyalitas lelaki,” kata Musdah.
Karena itulah, lanjut Musdah, penting bagi perempuan untuk berdaya dan memiliki literasi yang kuat, sehingga tidak mudah dihipnotis. (*)
Baca juga: Pandemi Covid-19 di India Kian Mengkhawatirkan, Bantuan Mulai Berdatangan
Baca juga: Gletser Dunia Mencair Lebih Cepat, Rata-rata 267 Miliar Ton Es per Tahun
Baca juga: Munarman Diduga Kuat Terlibat Jaringan Teroris di Tiga Daerah, di Makassar Baiat Terkait ISIS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/surat-wasiat-zakiah-aini-26-pelaku-terduga-teroris-penyerangan-mabes-polri-jalan-trunojoyo.jpg)