Breaking News:

Memahami Beragam Faktor Keterlibatan Perempuan dalam Pusaran Aksi Terorisme

Riset menunjukkan bahwa perempuan punya peran sangat vital dalam organisasi teroris, menjadi ahli propaganda, terlibat perekrutan, pengumpul dana.

Istimewa
Surat wasiat Zakiah Aini (26) pelaku terduga teroris penyerangan Mabes Polri Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2021) beredar. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Banyak faktor yang mendorong perempuan terlibat dalam berbagai aksi terorisme di Indonesia.

Kajian sejumlah pakar menyebut hal-hal baru yang mungkin membawa cara pandang berbeda terhadap tindakan mereka.

Psikolog Universitas Indonesia, Dr Zora Sukabdi, misalnya, menyatakan ada sistem payung yang membedakan aksi teroris laki-laki dan perempuan.

Sistem ini membedakan pilihan pelaku, di mana perempuan menjadikan suami atau ayahnya sebagai rujukan. Perbedaan ini dia temukan dalam penelitian terhadap napi terorisme.

“Jadi memang berbeda dengan pembuatan keputusan pada laki-laki, dia langsung ke Tuhan kemudian ke imam atau leader-nya. Kalau perempuan, leader-nya lebih ke keluarga dulu, bisa suami atau ayahnya,” kata Zora dalam ulasan VOA Indonesia, Rabu (28/4/2021).

Karena itulah, figur suami atau ayah berperan besar bagi teroris perempuan.

Bagi pelaku yang belum menikah, figur ayahnya menjadi acuan utama.

Jika figur ayah itu tidak bisa diandalkan, misalnya karena mengecewakan dalam implementasi keagamaan, kata Zora, teroris perempuan baru akan mencari sosok lain.

Dalam diskusi Perempuan, Terorisme dan Media Sosial yang diselenggarakan Kajian Terorisme dan Kajian Gender SKSG Universitas Indonesia, Rabu (28/4), Zora memberikan contoh kecenderungan ini.

Pada surat wasiat yang ditinggalkan pelaku teror di Mabes Polri 31 Maret 2021 lalu, pelaku menyebut ibunya 14 kali, sedangkan ayahnya hanya sekali.

Halaman
1234
Editor: maximus conterius
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved