Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tajuk Tamu Tribun Manado

Membaca Penguasa Dinasi Han: Leluhur Minahasa (2)

Penulis menguraikan bahwa Boseke mem-falsifikasi mitos dan mitologi di Minahasa. Terkait soal ini, tentu sah-sah saja.

ISTIMEWA
Ambrosius Loho 

Oleh:
Ambrosius M Loho M.Fil
Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado
Pegiat Filsafat-Estetika

DALAM tulisan sebelumnya penulis menyoroti soal pentingnya metode dalam sebuah penelitian-penemuan yang digunakan oleh Boseke dalam karya berjudul Penguasa Dinasti Han: Leluhur Minahasa. Di sana tampak jelas metode yang digunakan Boseke yakni falsifikasi ala Popper, kendati demikian, Boseke tidak menyadari bahwa metode tersebut telah digunakannya. Maka tulisan tersebut, cukup mampu memperkuat tesis dasar Boseke dalam karyanya itu.

Tulisan berikut ini, bukan untuk mengonfirmasi bahwa penulis secara penuh meyakini kebenaran penemuan Boseke, tetapi justru memperkuat beberapa hal lain, yang menurut hemat penulis, sangat perlu didudukkan pada tempatnya, termasuk oleh para komentator, kritikus dan siapa saja yang ingin menelaah karya Boseke. Hal itu perlu karena merupakan bagian dari metode falsifikasi.

Dalam beberapa diskusi terkait buku Boseke, tampak jelas bahwa tanggapan yang dikemukakan, tidak lebih dari sebuah kritikan, bahkan terdapat tanggapan yang mengarah pada ‘cibiran’. Entah posisi epistemis mereka seperti apa, tapi tanpa membaca buku secara komprehensif, klaim bahwa penelitian-penemuan Boseke adalah tidak benar, itu perlu dipertanyakan. Demikian juga, komentar demi komentar di berbagai forum diskusi sebagaimana penulis telah uraikan dalam tulisan sebelumnya, semakin membuka ‘tabir ketersembunyian’ sesuatu yang bisa saja penulis pun belum mengetahuinya. Kendati demikian ramai, hemat penulis, hal tersebut telah turut ‘menguji’ tesis dasar Boseke dalam bukunya.

Terlepas dari panasnya diskusi atau perdebatan itu, penulis justru lebih melihat sisi yang lain dari munculnya karya ini. Pertama, untuk melanjutkan beberapa refleksi penulis dalam tulisan sebelumya, penulis cukup yakin karya Boseke dari sisi perspektif tertentu, mengurai sebuah fakta bahwa di dalam sejarah yang telah ada sekarang, dan menjadi sebuah rujukan utama ke-Minahasa-an, tidak lalu menjadi mutlak dan tidak dapat dibantah. Menurut van der Meulen 1987, apa yang ditemukan Boseke, sejalan dengan sebuah fakta bahwa hal tersebut (penemuan Boseke) merupakan fase yang turut mengisi fase yang selama ini telah ada. Dalam sejarah, banyak fase dari suatu zaman/peristiwa yang belum terang benderang, maka pengetahuan sejarah juga selalu merupakan lubang-lubang dan tak lengkap, lagi pula ada godaan untuk menyatakan suatu hal dengan lebih pasti melebihi fakta yang telah pernah ada. (van der Meulen, 1987: 14).

Hal ini menegaskan bahwa ilmu sejarah tidak dapat dijalankan secara individualistis, tetapi bersifat sosial, seperti objeknya yang bersifat sosial. Artinya, setiap generasi meneruskan, memperlengkapi dan mengoreksi terus menerus hasil dari generasi lampau. Dari sini dapat dikatakan bahwa sejarah memang dipengaruhi oleh filsafat atau juga menegaskan bahwa sikap intelek pengarangnya merupakan alasan untuk semakin tegas menekankan bahwa sejarah dipengaruhi oleh filsafat. Demikian ini menjadi filsafat dasar yang mutlak. Selama berpikir kritis dan kokoh tidak dilibatkan atau dijelmakan dalam pengalaman menelusuri sejarah, maka penulisan dan pengajaran sejarah memang akan terapung dalam aliran yang bersifat mitis, kurang ilmiah, dan lain sebagainya. (Ibid. 15.).

Kedua, dari fakta di atas, penulis meyakini bahwa filsafat sebagai aktivitas berpikir, dan bukan semata sebagai pencari kebijaksanaan mutlak, mencoba menyadarkan kita akan pentingnya sebuah landasan berpikir terutama menyikapi fenomena munculnya sebuah temuan. Maka dari itu, karena filsafat penting, kita perlu memahami hakikat dan metode filsafat. Poin ini harus didudukkan terlebih dahulu sebagaimana mestinya, karena banyak salah kaprah tentang filsafat. Banyak klaim dari para simpatisan diskusi atau ‘peserta debat’ terkait karya Boseke, justru mempertanyakan filsafat (ilmu) dan posisinya terhadap karya Boseke.

Bahkan seingat penulis, tanggapan yang cukup menohok, adalah bahwa filsafat itu mutlak mencari kebijaksanaan. Dan apapun kerja filsafat, filsafat hanya berkisar pada mencari kebijaksanaan. Maka terhadap fakta ini, penulis harus mempertegas bahwa filsafat adalah ilmu kritis, dia tidak hanya berdiam dalam posisi ‘mencari kebijaksanaan’ terus menerus, dia juga tidak hanya terus menerus mencari dan mencari saja, tetapi selanjutnya justru ‘merambah’ dunia berpikir sang subjek pemikir. Ketika ada sebuah penemuan, filsafat justru berperan sebagai aktivitas berpikir, untuk berpikir kritis entah terhadap sebuah hasil penelitian, ataupun penemuan tertentu. Maka di sini jelaslah apa yang dikatakan Drijarkara: Tugas filsafat adalah melawan kekacauan (pikiran) yang ada di dunia ini, filsafat adalah aktivitas berpikir rasional.

Terkait apa yang marak dalam diskusi di berbagai forum diskusi budaya Minahasa saat ini, penulis berkeyakinan bahwa temuan Boseke, tidak tanpa kaitan dengan filsafat sebagai penguji yang kritis. Filsafat akan semakin memperkuat temuan itu, juga karena peran filsafat sebagai sebuah ilmu yang mencerahkan-kritis. Namun melampaui itu, filsafat yang adalah aktivitas berpikir, harus dibarengi metodenya, yakni metode dialog atau percakapan kritis. Tentang metode dialog ini, kita perlu menanamkan sikap kritis, dalam berdialektika, karena beberapa diskusi seputar karya Boseke ini sebelumnya, telah tampak seperti ‘debat kusir’ yang tidak dewasa, bahkan ada yang menyerang orang pribadi (argumentum ad hominem). Terhadap fakta ini, mereka bukan filsuf yang sejati.

Ketiga, sebagaimana tulisan kritis sebelumnya, penulis menguraikan bahwa Boseke mem-falsifikasi mitos dan mitologi di Minahasa. Terkait soal ini, tentu sah-sah saja. Mengapa? Karena dalam dunia ilmu pengetahuan, cara yang ditempuh Boseke adalah persis seperti para filsuf pertama (Thales, dkk.), yang menggeser mitos-mitologi ke logos. Penggeseran ini tentu didasarkan atas sebuah fakta bahwa hal-hal terkait mitos-mitologi, tidak kuat lagi pertanggungjawabannya.

Berbanding lurus dengan hal itu, dalam kebudayaan Yunani, logos adalah rasio, pikiran atau perkataan yang menjadi kunci dalam aktivitas berpikir (filsafat). Pergeseran mitos ke logos, ditandai dengan berpikir logisnya sang subjek. Dalam tataran ini, logos semakin berperan untuk mencapai sebuah ‘episteme’ (pengetahuan sejati). Kendati begitu, pantaskah mitos-mitologi itu dijadikan satu-satunya sumber yang paling mutlak, absolut dan tak terbantahkan? Sebaik-baiknya itu, tak pernah benar demikian adanya. Hal yang mapan sebagaimana diajarkan mitos-mitologi, harus didobrak, karena posisinya yang tidak kuat lagi mempertanggungjawabkan pemikirannya.

Akhirnya, debat, diskusi, dialog dan atau dialektika dalam berbagai forum diskusi terkait karya Boseke, harus dikembalikan kepada peruntukannya, jika memang kita membutuhkan sebuah kerangka berpikir logis, dan filosofis. Filsafat penting untuk memosisikan sebuah temuan-penelitian apapun. Filsafat juga penting karena dia adalah berpikir itu sendiri. (*)

Baca juga: Tanggal Habib Rizieq Pulang Indonesia Disampaikan Hari Ini, Disiarkan Langsung dari Makkah

Baca juga: Pelajar SMA Curi Uang Rp 18,2 Juta dengan Cara Bobol Atap Toko, Duit Dipakai untuk Foya-foya

Baca juga: Dikira Tertular Covid-19, Ayah di Jati Tega Bunuh Anak Kandungnya, Tubuh Terlilit Sarung

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved