Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tajuk Tamu Tribun Manado

Bantu Kepolisian Perangi Hoaks

Jangan mudah terprovokasi dengan berita-berita hoaks dan jangan pula menyebarkan berita-berita hoaks.

Istimewa
Ventje Jacob 

Oleh:
Ventje Jacob
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

MARAKNYA kabar bohong (hoax) yang berpotensi mengancam keutuhan bangsa menjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh bangsa dan negara. Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengaku bahwa hoaks tumbuh subur di media sosial yang akibatnya kaum milenial riskan terpapar hoaks. Korban terakhir "hoaks" adalah aksi unjuk rasa (demo) anti pemberlakuan "UU Cipta Kerja". Unjuk rasa yang terjadi akibat beredarnya berita "hoaks" yang sengaja dipelintir oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Kadiv Humas Polri, pengguna media sosial yang aktif itu rata-rata anak muda. Mereka perlu diberi literasi atau diberikan pemahaman tentang hoaks agar mereka tidak salah bersikap saat menerima berita palsu atau yang dikenal dengan istilah populer “hoax”. Perlu kita ingat bersama bahwa berita palsu (hoaks) bisa bertebaran dalam berbagai bentuk, mulai dari tulisan, foto, maupun video.

Di era ini, semua orang bisa menggunakan media sosial, dan berita hoaks jadi sangat mudah tersebar. Mengingat dampaknya sangat buruk, setiap orang pasti ingin menghindarinya. Terutama ketika ada isu penting yang tersebar di tengah masyarakat, tentu kita ingin mendapatkan informasi yang valid dan kredibel agar bisa up to date dengan kabar terkini.

Di sisi lain dampak buruk berita hoaks juga bisa merugikan kesehatan mental. Dalam sebuah studi, para psikolog sepakat bahwa berita hoaks bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan mental, seperti post-traumatic stress syndrome (PTSD), menimbulkan kecemasan, sampai kekerasan.

Para peneliti menemukan, orang-orang yang tidak gemar mencari tahu kebenaran atas sebuah berita, memiliki respons yang tidak baik, saat dihadapkan dengan informasi menyesatkan dalam situasi stres yang akibatnya, muncul rasa stres, respons jantung yang tidak normal, dan perilaku membaca tak menentu.

Hal ini juga berpengaruh pada aspek psikologis. Orang-orang yang enggan mencari tahu kebenaran suatu berita akan merasa kurang percaya diri dan suka menganggap diri mereka negatif. Dengan demikian, kemampuan seseorang untuk menilai keaslian suatu berita, bisa memengaruhi kondisi kesehatannya, baik secara fisik maupun mental.

Cara menghindari berita hoaks

Ada banyak cara untuk tidak “termakan rayuan gombal” berita hoaks yang sampai ke telinga maupun mata kita. Beberapa di antaranya ialah:

Sebelum memercayai sebuah kabar, tanya dulu diri sendiri, apakah sumbernya dapat dipercaya? Untuk menghindari berita hoaks, ada baiknya kita lebih jeli dalam memverifikasi sumber datangnya berita, agar tidak ada kabar hoaks.

1. Belajar menilai kabar

Menurut penelitian, orang yang sulit menilai keaslian sebuah kabar di televisi, koran atau media sosial, cenderung mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya.

Oleh karena itu, belajar menilai informasi yang diterima, misalnya mencerna apakah info itu masuk akal, menjadi cara tepat dalam mempersiapkan diri dalam menangkal berita hoaks.

2. Periksa waktu penerbitan informasi

Dalam hal ini, waktu penerbitan informasi, memerankan peran penting dalam penyebaran kabar hoaks. Sebab, banyak berita yang sudah tidak relevan, kemudian dirilis lagi untuk memanaskan suasana. Akibatnya, banyak orang yang bisa terkena dampak buruknya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved