Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Duka Sektor Pariwisata di Tengah Pandemi

Berkurangnya tamu yang menginap di hotel bintang, kemungkinan diakibatkan berkurangnya kunjungan transportasi laut dan udara menuju Sulawesi Utara.

Editor: maximus conterius
Istimewa
Penyambutan perdana wisman Tiongkok yang menumpangi penerbangan Charter Citilink di Bandara Samrat Manado, Kamis (16/01/2020) pagi. 

Oleh:
Ahmad Yeyen Fidyani
Statistisi Pertama BPS Kota Manado

PANDEMI menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana atau meliputi daerah geografis yang luas. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan pandemi pada Covid-19 atau Corona, sebab virus mematikan yang pertama kali ditemukan di Wuhan pada akhir tahun 2019 ini terus menyebar ke beberapa negara, tak terkecuali Indonesia.

Virus yang belum diketahui vaksinnya ini penularannya cukup masif, hingga saat ini di Indonesia tercatat sudah 303.498 orang yang positif dengan 11.151 di antaranya gugur dan 228.453 sembuh (data 4 Oktober 2020). Di Sulawesi Utara, kasus positif Corona sudah mencapai 4.576 orang, 3.710 di antaranya sembuh dan 177 orang meninggal dunia. Angka ini terus mengalami percepatan penambahan sejak kemunculan pertama kalinya di Indonesia pada awal Maret lalu. Artinya keadaan Indonesia belum membaik sejak 7 bulan yang lalu hingga saat ini dari virus tersebut.

Corona sebenarnya tidak hanya membahayakan manusia dari sisi kesehatan, tetapi juga segala aspek kehidupan manusia. Di antaranya (1) kinerja pegawai yang kurang maksimal dengan work from home (WFH)-nya, (2) kemampuan belajar siswa dengan sekolah/kuliah online-nya, (3) ketaatan manusia kepada Tuhan dengan dibatasinya beribadah bersama di tempat ibadah. Hal ini merupakan bentuk kepatuhan kita kepada pemerintah dalam upaya memutus rantai penyebaran Corona sesuai rekomendasi WHO untuk melakukan social atau physical distancing. Bahkan di beberapa wilayah, pemerintah daerah-nya menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai opsi lain dari lockdown.

Corona secara tidak langsung juga membahayakan perekonomian bangsa, tak terkecuali sektor pariwisata. Seperti yang telah diketahui bahwa banyak hotel/penginapan ditutup sementara akibat Corona. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat sekitar 2.000 hotel ditutup akibat Corona hingga awal Mei 2020, tak terkecuali hotel-hotel di Sulawesi Utara. Meskipun beberapa hotel masih beropersi, namun tingkat penghunian kamar (TPK)-nya terbilang rendah.

Berdasarkan data yang dihimpun dari BPS Provinsi Sulawesi Utara, TPK hotel bintang tahun ini merupakan TPK terendah selama beberapa tahun terakhir, terlebih saat Corona sudah masuk ke Indonesia. Bahkan pada April, TPK hotel bintang di Sulawesi Utara hanya sebesar 13,98 persen. Sejak awal kemunculan corona di Indonesia hingga rilis terakhir Berita Resmi Statistik (BRS), TPK hotel bintang di Sulawesi Utara selalu rendah dengan hanya 33,13 persen (Maret), 19,14 persen (Mei), 24,62 persen (Juni), 26,17 persen (Juli), dan 40,05 persen (Agustus), padahal pada periode yang sama selama beberapa tahun terakhir selalu di atas 60 persen.

Berkurangnya tamu yang menginap di hotel bintang, kemungkinan diakibatkan oleh berkurangnya kunjungan transportasi laut dan udara menuju Sulawesi Utara. Sejak Maret hingga Agustus 2020 jumlah kapal laut yang berlabuh di Sulawesi Utara turun drastis. Mulai dari 1.505 kunjungan (Maret), 1.162 kunjungan (April), 956 kunjungan (Mei), 1.074 kunjungan (Juni), 1.027 kunjungan (Juli), dan 1.063 kunjungan (Agustus), baik pelayaran dalam negeri maupun luar negeri. Senada dengan kunjungan kapal, jumlah penumpangnya pun mengalami penurunan yang drastis. Tercatat sebanyak 49.002 penumpang yang turun di Sulawesi Utara pada bulan Maret, 16.453 penumpang pada bulan April, 5.000 penumpang pada Mei, dan mulai meningkat kembali seiring diberlakukannya new normal di bulan Juni-Agustus dengan berturut-turut sebanyak 19.444, 16.797, dan 23.149 penumpang.

Apabila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019 (y-on-y), hanya Maret 2020 yang justru mengalami peningkatan, di mana pada Maret 2019 tercatat sebanyak 1.479 kunjungan kapal dengan 44.319 penumpang. Efek Corona belum terlihat di awal kemunculannya terhadap kunjungan kapal di Sulawesi Utara, karena Maret tidak sepenuhnya ‘bulan’ Corona serta pelayaran yang sudah terjadwalkan sejak jauh hari. Namun sangat kontradiktif dengan April hingga Agustus, di mana pada April 2019 tercatat sebanyak 1.492 kunjungan kapal dengan 53.953 penumpang, Mei 2019 sebanyak 1.743 kunjungan kapal dengan 56.891 penumpang, pada Juni 2019 sebanyak 1.140 kunjungan kapal dengan 70.526 penumpang, pada Juli 2019 sebanyak 1.262 kunjungan kapal dengan 74.459 penumpang, dan pada Agustus 2019 sebanyak 1.147 kunjungan kapal dengan 46.540 penumpang.

Pun demikian dengan kunjungan pesawat udara ke Sulawesi Utara yang mengalami penurunan drastis sejak adanya Corona di Indonesia. Pada Maret 2020 hanya terdapat 852 penerbangan yang mendarat di Sulawesi Utara, dengan 16 di antaranya merupakan penerbangan internasional. Pada bulan ini, pengaruh Corona terhadap penerbangan belum terlalu besar terutama penerbangan internasional. Namun tidak demikian pada lima bulan setelahnya, di mana pada April-Agustus 2020 masing-masing hanya 297, 146, 223, 362, dan 388 penerbangan dengan hanya 2, 7, dan 6 penerbangan internasional di bulan Juni-Agustus. Dengan demikian, jumlah penumpang yang turun di Sulawesi Utara pun mengalami penurunan. Tercatat sebanyak 69.598 penumpang pada Maret 2020, dengan 969 di antaranya merupakan penumpang penerbangan internasional. Serta terus mengalami penurunan yang sangat signifikan pada bulan April dan Mei, di mana tercatat sebanyak 10.807 dan 680 penumpang. Namun mengalami sedikit peningkatan saat memasuki era new normal pada bulan Juni-Agustus dengan 9.139 penumpang, 261 di antaranya merupakan penumpang penerbangan internasional (Juni). Di bulan Juli sebanyak 20.675 penumpang, 736 di antaranya merupakan penumpang penerbangan internasional dan di bulan Agustus sebanyak 28.780 penumpang, 784 di antaranya merupakan penumpang penerbangan internasional.

Secara y-on-y penerbangan ke Sulawesi Utara pasti mengalami penurunan yang sangat signifikan, dimana secara berturut-turut jumlah penerbangan dan penumpang yang mendarat di Sulawesi Utara adalah sebanyak 1.026 penerbangan dengan 91.090 penumpang (Maret 2019), 1.311 penerbangan dengan 120.108 penumpang (April 2019), 1.020 penerbangan dengan 80.855 penumpang (Mei 2019), 1.120 penerbangan dengan 94.690 penumpang (Juni 2019), 1.041 penerbangan dengan 113.199 penumpang (Juli 2019), dan 1.064 penerbangan dengan 105.894 penumpang (Agustus 2019). Penerbangan internasional di setiap bulan sekitar 68-92 penerbangan, dengan 9,1-15,0 ribu penumpang.

Selain dari penurunan kunjungan tranportasi laut dan udara yang menuju Sulawesi Utara, kebijakan rapat, pelatihan atau pertemuan ASN yang biasanya dilaksanakan di hotel dan dialihkan dengan cara daring juga mampu memengaruhi penurunan TPK hotel bintang Sulawesi Utara selama pandemi ini. Kebijakan tersebut tentu dengan tujuan untuk memutus penyebaran Corona akibat berkumpulnya orang-orang secara masif dalam rapat, pelatihan atau pertemuan tersebut.

Sebagai penutup, marilah bersama-sama melawan penyebaran Corona dengan tetap mengikuti protokol kesehatan seperti memakai masker, rajin cuci tangan atau memakai handsanitizer, dan jaka jarak saat beraktivitas di luar rumah. Dengan tidak lupa berdoa kepada-Nya agar Corona atau wabah yang sejenis bisa diangkat kembali dari bumi-Nya. Amin. (*)

Cerita Marissa Hutabarat Jadi Hakim di AS

Polisi Periksa CCTV Mesin Absensi: Kasus Kebakaran Gedung Kejagung

Marketing Post Covid-19, Hermawan Kertajaya: 2021 Bakal Mengubah Ketakutan Jadi Harapan

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved