Kemenag Sulut
Salib : Dari Penderitaan Menuju Pengharapan
Tulisan opini Oleh: Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng dan IAIN ManadoSalib : Dari Penderitaan Menuju Pengharapan.
Salib : Dari Penderitaan Menuju Pengharapan
Oleh:
Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng dan IAIN Manado
SALIB selalu tampak sebagai paradoks: lambang kehinaan sekaligus kemuliaan, tanda kekalahan tetapi juga kemenangan.
Bagi orang Katolik, salib bukan sekadar kayu penderitaan, melainkan jalan cinta yang agung dan sumber keselamatan.
Dalam dunia yang kian dikuasai digitalisasi, didera ketidakadilan, dan dilukai krisis kepemimpinan, Pesta Salib Suci pada 14 September menjadi cermin sekaligus tantangan: beranikah kita memikul salib kasih, pengorbanan, dan harapan itu di tengah luka bangsa dan dunia?
Paradoks Salib dan Kehidupan
Sejarah filsafat memperlihatkan pergulatan manusia menghadapi penderitaan. Epikuros menekankan bagaimana manusia berusaha menghindari kesakitan dan mencari kenikmatan sebagai tujuan hidup.
Kaum Stoa melihat penderitaan sebagai sesuatu yang harus diterima dengan lapang dada, bagian dari keteraturan kosmis yang tak bisa dihindari.
Nietzsche lebih jauh menolak salib sebagai simbol, menyebutnya moralitas budak yang mengekang vitalitas manusia.
Namun dalam iman Kristiani, salib justru menjadi puncak kebijaksanaan ilahi. Salib adalah paradoks: sesuatu yang dianggap hina oleh dunia, tetapi justru menjadi lambang kemenangan.
Paulus menulis bahwa salib adalah “kebodohan” bagi dunia, tetapi “kekuatan Allah” bagi orang beriman.
Kierkegaard menyebut salib sebagai “batu sandungan”, sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh akal semata, tetapi mengundang manusia masuk ke dalam lompatan iman.
Salib menunjukkan bahwa makna hidup tidak ditemukan dalam menghindari penderitaan, melainkan dalam menghadapinya dengan cinta.
Dalam budaya modern yang menekankan instan, kenyamanan, dan efisiensi, salib adalah kritik mendalam: hidup bermakna bukan karena bebas dari luka, melainkan karena berani menanggungnya demi cinta.
Filosofisnya, salib adalah ajakan untuk memandang penderitaan bukan sebagai absurditas, tetapi sebagai ruang kemungkinan untuk menemukan nilai tertinggi manusia: pengorbanan demi yang lain.
| Sulawesi Utara Raih 3 Penghargaan Harmony Award 2025 |
|
|---|
| Refleksi Hari Guru Nasional: Memuliakan Guru, Menuai Berkah |
|
|---|
| Kemenag Sulut dan Ditjen Pajak Perkuat Sinergi Kepatuhan Pajak ASN |
|
|---|
| Kemenag Sulut Gelar Rakor, Mantapkan Sinkronisasi Data untuk Layanan Pendidikan Berkualitas |
|
|---|
| Momen Sumpah Pemuda, Kakanwil Kemenag Sulut Ulyas Taha : Semangat Kita Semua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Tulisan-opini-oleh-Oleh-Herkulaus-Mety-SFils-MPd-Foto.jpg)