Kamis, 9 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kemenag Sulut

Salib : Dari Penderitaan Menuju Pengharapan

Tulisan opini Oleh: Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng dan IAIN ManadoSalib : Dari Penderitaan Menuju Pengharapan.

Kolase/HO
OPINI - Tulisan opini oleh Oleh: Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd, Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng dan IAIN Manado. Salib : Dari Penderitaan Menuju Pengharapan. 

Salib : Dari Penderitaan Menuju Pengharapan

Oleh: 
Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng dan IAIN Manado

SALIB selalu tampak sebagai paradoks: lambang kehinaan sekaligus kemuliaan, tanda kekalahan tetapi juga kemenangan. 

Bagi orang Katolik, salib bukan sekadar kayu penderitaan, melainkan jalan cinta yang agung dan sumber keselamatan. 

Dalam dunia yang kian dikuasai digitalisasi, didera ketidakadilan, dan dilukai krisis kepemimpinan, Pesta Salib Suci pada 14 September menjadi cermin sekaligus tantangan: beranikah kita memikul salib kasih, pengorbanan, dan harapan itu di tengah luka bangsa dan dunia?

Paradoks Salib dan Kehidupan

Sejarah filsafat memperlihatkan pergulatan manusia menghadapi penderitaan. Epikuros menekankan bagaimana manusia berusaha menghindari kesakitan dan mencari kenikmatan sebagai tujuan hidup. 

Kaum Stoa melihat penderitaan sebagai sesuatu yang harus diterima dengan lapang dada, bagian dari keteraturan kosmis yang tak bisa dihindari. 

Nietzsche lebih jauh menolak salib sebagai simbol, menyebutnya moralitas budak yang mengekang vitalitas manusia.

Namun dalam iman Kristiani, salib justru menjadi puncak kebijaksanaan ilahi. Salib adalah paradoks: sesuatu yang dianggap hina oleh dunia, tetapi justru menjadi lambang kemenangan. 

Paulus menulis bahwa salib adalah “kebodohan” bagi dunia, tetapi “kekuatan Allah” bagi orang beriman. 

Kierkegaard menyebut salib sebagai “batu sandungan”, sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh akal semata, tetapi mengundang manusia masuk ke dalam lompatan iman.

Salib menunjukkan bahwa makna hidup tidak ditemukan dalam menghindari penderitaan, melainkan dalam menghadapinya dengan cinta. 

Dalam budaya modern yang menekankan instan, kenyamanan, dan efisiensi, salib adalah kritik mendalam: hidup bermakna bukan karena bebas dari luka, melainkan karena berani menanggungnya demi cinta. 

Filosofisnya, salib adalah ajakan untuk memandang penderitaan bukan sebagai absurditas, tetapi sebagai ruang kemungkinan untuk menemukan nilai tertinggi manusia: pengorbanan demi yang lain.

Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Musafir Jurnalis

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved