Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tajuk Tamu Tribun Manado

Sebuah Catatan di Hari Pendidikan Nasional

Kemampuan menyesuaikan diri dengan zaman sekarang, adalah yang paling diharapkan di dalam sebuah proses pendidikan.

ISTIMEWA
Ambrosius Loho 

Oleh:
Ambrosius M Loho M.Fil
Dosen Universitas Katolik De La Salle Manado
Pegiat Filsafat

PENDIDIKAN adalah kunci bagi setiap proses untuk memajukan bangsa. Pendidikan adalah lini vital, karena melalui pendidikan kemajuan sebuah bangsa ditentukan. Bahkan, ketika pendidikan ‘terganggu’ oleh berbagai macam ‘musibah’, pendidikan tidak bisa kehilangan ‘tajinya’. Dalam setiap tahun, kita merayakan ‘Hari Pendidikan Nasional’ pada tanggal 2 Mei. Setiap perayaan ‘Hardiknas’ seperti saat ini, kita diajak untuk merefleksikan sejauh mana peran pendidikan bagi bangsa.

Berkaitan dengan itu, sekurang-kurangnya ada dua hal yang menjadi refleksi penulis. Pertama, Ki Hadjar Dewantara pernah menyatakan bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan dan menumbuhkan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh (psikomotorik). Dalam konteks pengertian Taman Siswa (wadah/paguyuban yang didirikan Ki Hadjar Dewantara), budi pekerti, pikiran dan tubuh, tidak boleh dipisahkan satu sama lain, agar kita bisa memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan panghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya. (Wasita Jilid II No. 1-2-Juli-Agustus 1930: 1-2).

Baginya, pendidikan harus membentuk peserta didik untuk mencapai kesempurnaan hidup, dan kehidupannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada kini pun tidak bisa dimungkiri telah mengubah wajah pendidikan karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah berdampak bagi model pembelajaran dalam pendidikan. Dengan kenyataan itu, pendidikan akhirnya terbuka bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu.

Kedua, di sisi yang sama, kita juga bisa melihat bahwa pendidikan dipengaruhi oleh dimensi sosial budaya yang senantiasa mengalami perkembangan. Sadar atau tidak, hal itu adalah juga menjadi faktor dominan yang telah membentuk (memengaruhi) eksistensi pendidikan. Penggunaan alat dan sarana kebutuhan hidup yang modern telah memungkinkan pola pikir dan sikap manusia untuk memproduksi nilai-nilai baru sesuai dengan intensitas pengaruh teknologi terhadap tatanan kehidupan sosial budaya. (Karsidi, 2005: 63). Maka dalam konteks ini, dapatlah dikatakan bahwa justru pendidikan memainkan perannya sebagai agen pengajaran nilai-nilai budaya. Pada dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang dimiliki.

Tanggal 2 Mei Diperingati Sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Berikut Sejarahnya

Beranjak dari situ, adanya pandemi Covid-19 saat ini, bisa dilihat sebagai ‘musibah’ bagi kelancaran pengembangan pendidikan, terutama menyangkut pengajaran, kendati akhirnya hal positif bisa didapatkan darinya. Saat ini, kita semua memanfaatkan media pembelajaran daring. Para pengajar, pendidik dan semua ‘stakeholder’ di dunia pendidikan, telah menggunakan media online untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Bagaimana kita melihat kesinambungan antara esensi pendidikan yang menitikberatkan pada tumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh, sebagaimana yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara dan fakta adanya realitas yang mementaskan sebuah dinamika sosial budaya?

Hemat penulis, model pembelajaran daring adalah bagian utuh dari perkembangan untuk mengatakan perubahan atau dinamika, sosial dan budaya. Kehidupan sosial dan budaya yang berkembang kini tidaklah akan dianggap sebagai sebuah hal yang akan menghambat pendidikan, tapi haruslah dilihat sebagai sebuah hal yang ‘berada bersama’ pendidikan itu. Paling tidak dapatlah dikatakan bahwa model pembelajaran daring tidaklah benar-benar model yang baru, hanya memang hal itu baru benar-benar digalakkan saat adanya pandemi seperti saat ini.

Jadi, jika kita menyadari dengan saksama, yang terjadi kini, sudah sesuai dengan apa yang pernah ditegaskan juga oleh Ki Hadjar: Bahwa setiap individu (pendidik dan peserta didik) akhirnya tahu bahwa keterbukaan pada ilmu pengetahuan terbaru (semisal pembelajaran daring), adalah garis hidup yang tetap; Bahwa semua harus terbuka pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka tidaklah mengherankan, setiap individu akan memaksimalkan kemampuan menyesuaikan diri (sikap adaptif). (Bdk. ibid).

PESAN Mendikbud Nadiem Anwar Makarim di Momen Hardiknas atau Hari Pendidikan Nasional 2020

Dengan demikian, kemampuan menyesuaikan diri dengan zaman sekarang, adalah yang paling diharapkan di dalam sebuah proses pendidikan. Kendati begitu, adanya sikap keterbukaan itu tetap dibarengi oleh sikap waspada dalam memilih mana yang baik untuk menambah kemuliaan hidup kita dan menyadari juga mana yang akan merugikan, dengan selalu mengingat bahwa semua kemajuan dalam ilmu pengetahuan serta segala peri kehidupan itulah kemurahan Tuhan untuk segenap manusia di seluruh dunia. (Ibid).

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa cara kerja atau metode pembelajaran daring yang dijalankan selama ini memang menjadi cara atau metode yang baru. Banyak sisi positif tapi juga tak lepas sisi negatif. Toh keduanya tetap beriringan, proses pendidikan, pengajaran dan pengembangannya akan terus berlanjut. Dengan tetap berpijak dari esensi pendidikan dan menyesuaikannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju, kita bisa terus melangsungkan proses pengembangan pendidikan yang dimaksud.

Salam pendidikan. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020. (*)

AS Izinkan Remdesivir untuk Obati Covid-19

91 Juta Akun Tokopedia Bocor: Dijual Rp74 Juta di Forum Darkweb

UPDATE Covid-19 di ASEAN Minggu 3 Mei 2020: Indonesia Terbanyak Meninggal, Singapura Kasus Tertinggi

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved