Tajuk Tamu Tribun Manado

Gaduh Data Menjelang Hari Inovasi

Namun kita tetap harus berprasangka baik kepada beliau, serta mengapresiasi kinerja beliau selama lima tahun terakhir sebagai Menteri Pertanian.

Gaduh Data Menjelang Hari Inovasi
(Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian)
Mantan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman 

Yang menarik adalah hari ini tanggal 1 November diperingati sebagai Hari Inovasi di Indonesia. Dua putra bangsa Indonesia yang kebetulan berasal dari daerah yang sama, tepatnya Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, bertolak belakang menanggapi inovasi yang dihasilkan oleh instansi pemerintah dalam upaya menghasilkan data produksi padi yang lebih baik.

Bapak Amran Sulaiman, yang per tanggal 23 Oktober lalu posisinya digantikan oleh Bapak Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyatakan data yang dihasilkan oleh inovasi tersebut sebagai data dengan ketidakakuratan sebesar 92 persen bahkan meng-kiaskannya dengan data mafia.

Sementara Bapak Jufus Kalla, yang per tanggal 20 Oktober lalu perjuangannya sebagai Wapres RI diteruskan oleh Bapak Ma'ruf Amin, mengganjarnya dengan pengahrgaan yang cukup presitisius.

Gara-gara Jokowi, Prabowo Gagal Berfoto dengan Sri Mulyani, Semua Menteri pun Tertawa

Karena para penerima TOP 45 Inovasi telah menyisihkan tidak kurang dari 3.156 jenis inovasi pada tahun 2019 ini yang berasal 330 kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Siapakah yang berada dalam kebenaran? Bisa jadi keduanya benar. Setelah beberapa hari terakhir diserbu pertanyaan oleh pewarta terkait pertanyaan pendahulunya di Kementerian Pertanian, Bapak SYL langsung menindaklajutinya dengan mendatangi Kepala BPS RI Suharyanto di kantornya pada 29 Oktober lalu untuk membicarakan rekonsiliasi data pangan tersebut ke depannya. Meskipun beliau berseloroh, "Kita mempercayakan masalah data hanya ke BPS".

Sekali lagi, ini demi mewujudkan visi presiden Joko Widodo yang mencanangkan satu data, dalam hal ini termasuk data pertanian.

Impian Yasti Terwujud, Bolmong Miliki Kawasan Industri Khusus Bernilai 2 Miliar Dolar

Sehingga kedepannya sudah tidak ada lagi data pertanian versi Kementan atau versi BPS, yang ketika terjadi perbedaan data, tidak ada instansi yang merasa paling benar dan menyalahkan instansi lainnya, sehingga pada akhirnya pemerintah Indonesia mampu melakukan perencanaan dan kebijakan secara baik di sektor pangan dengan data yang benar, demi kesejahteraan bangsa Indonesia. (*)

PA 212 Kecewa Prabowo Tak Tepati Janji Pulangkan Habib Rizieq & Singgung Jokowi: Nanti Kami Sendiri!

Sebut Dirinya Penyanyi Kamar Mandi, Nagita Slavina Justru Punya Mikrofon Mewah Seharga Rp 224 Juta

Puan: Hubungan Megawati dan SBY Baik, Bantah PDIP Jegal AHY Jadi Menteri

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved