Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tajuk Tamu Tribun Manado

Pemuda, Agen Perubahan Bangsa

Munculnya generasi muda yang biasa disebut generasi milenial dalam pemerintahan, membuktikan potensi anak muda yang dinamis sangat diperlukan.

YouTube KemendikbudRI
Mendikbud Nadiem Makarim berpidato pada hari peringatan Sumpah Pemuda di kantor Kemendikbud di Jakarta, Senin (28/10/2019). 

Titha Aprilliawatie
Statistisi Pertama BPS Kota Manado

“BERI aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Ungkapan Bung Karno ini masih melekat kuat dalam sanubari. Untaian kata yang menggambarkan betapa generasi muda dipercaya mempunyai potensi yang luar biasa.

Tak heran, akhir-akhir ini banyak anak muda yang diberi kesempatan untuk unjuk gigi dengan dipercaya turut aktif dalam membangun bangsa.

Partisipasi tersebut beragam, salah satunya terjun ke dalam struktur pemerintahan. Misalnya saja, beberapa anak muda yang mulai muncul menghiasi DPR/MPR RI periode 2019-2024.

Atau, terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam jajaran eksekutif, yang sekaligus menjadikannya menteri termuda dalam Kabinet Indonesia Maju.

4 Pesan Mendikbud Nadiem Makarim di Hari Sumpah Pemuda

Munculnya generasi muda yang biasa disebut generasi milenial dalam pemerintahan, membuktikan bahwa potensi anak muda yang dinamis sangat diperlukan di era sekarang.

Anak muda ‘zaman now’ yang memiliki pemikiran lebih terbuka, kreatif dan inovatif diyakini mampu membawa Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.

Terlebih secara kuantitas, jumlah mereka sangat fantastis. Merujuk data Proyeksi Penduduk BPS, pada tahun 2018 diperkirakan sekitar 33 persen dari penduduk Indonesia adalah generasi milenial.

Hari Sumpah Pemuda, Duta Bahasa Sulut 2019 Ajak Anak Muda Bangga Gunakan Bahasa Indonesia

Kuantitas ini akan menjadi lebih berarti jika dibarengi dengan kualitas yang mumpuni.
Salah satu indikator kualitas pembangunan manusia adalah pendidikan.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018, secara umum, pemuda Indonesia yang tamat SMA/sederajat yaitu sebesar 36,89 persen, mereka yang tamat SMP/sederajat sebesar 32,18 persen. Dan mirisnya, hanya 9,71 persen saja yang menamatkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Hal ini mengindikasikan masih rendahnya daya saing pemuda Indonesia sehingga penting bagi pemerintah untuk memperhatikan isu pendidikan, agar generasi penerus bangsa tidak hanya berhenti di jenjang SMA namun memberinya peluang untuk melanjutkan pendidikannya hingga level perguruan tinggi.

Putra Kawanua OH Pantouw yang Punya Andil Besar Pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Sehingga diharapkan kualitas pemuda Indonesia akan lebih baik di masa mendatang. Dan lebih siap dalam menghadapi persaingan global.

Selain itu, kemampuan softskill, kreativitas, serta inovasi juga perlu ditingkatkan. Anak muda harus diberi ruang berekspresi, kemudahan serta kebebasan untuk meng-eksplore kemampuannya agar melahirkan karya-karya baru yang bermanfaat dan berdaya guna sebagai sumber ekonomi baru penggerak perekonomian bangsa.

Munculnya influencer muda yang mampu memotivasi kaum milenial untuk lebih inovatif dan kreatif menjadi contoh positif.

Inilah 13 Tokoh Pemuda Pencetus Kongres 28 Oktober 1928 Hari Sumpah Pemuda, Begini Makna Teks-nya

Kaum muda dipacu untuk tidak hanya menjadi follower, namun mampu menjadi beda. Meski berusia belia, para influencer muda ini umumnya mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan jumlah yang tak sedikit.

Masalah lain terkait optimalisasi potensi para pemuda Indonesia adalah tingkat pengangguran. Masih rendahnya partisipasi sekolah jenjang perguruan tinggi, diperparah dengan tingginya tingkat pengangguran di kalangan pemuda.

Pada tahun 2018, misalnya, tingkat pengangguran terbuka pemuda Indonesia terbilang masih cukup tinggi yaitu sebesar 13.47 persen, dimana sebagian besarnya merupakan lulusan SMA/sederajat.

Profil Soegondo Djojopoespito: Pemimpin Kongres Pemuda II dan Pencetus Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Masalah pengangguran tersebut harus segera ditemukan jalan keluarnya supaya peran pemuda benar-benar menjadi ujung tombak pembangunan bangsa, bukan malah menjadi beban bagi negara.

Dari ungkapannya tentang kekuatan sepuluh pemuda yang diibaratkan mampu mengguncangkan dunia, Bung Karno sangat percaya pemuda adalah harapan bangsa, yang berperan penting dalam pembangunan.

Setiap anak muda memiliki potensi yang besar dalam upaya meraih cita-cita luhur kemerdekaan, baik dari segi sosial, ekonomi maupun politik.

Sejarah 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda dan Lahirnya Sumpah Pemuda, Satiman jadi Motor Pergerakan

Jika pada zaman penjajahan kolonial dahulu para pemuda berjuang dengan darah mereka, maka pada zaman milenial saat ini, pemuda harus berjuang dengan mengoptimalkan potensinya sehingga mampu berkontribusi nyata untuk negara.

Selamat Hari Sumpah Pemuda untuk seluruh pemuda Indonesia. Mari memaknai Sumpah Pemuda dengan menjadi agen perubahan bangsa ini kearah yang lebih baik. (*)

Mulan Jameela Woles Ditempatkan di Komisi Energi

Diolok-olok via Meme, Conor McGregor Tantang Rapper 50 Cent

Hari Sumpah Pemuda, Karyawan Swasta Lakukan Bagi-Bagi Sembako dan Uang Saku

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved