Renungan Minggu

Renungan Minggu - Bertopeng : Kebaikan atau Kejahatan? (Menghayati Masa Sengsara Tuhan Yesus)

Buka topengmu ! Bila kalimat ini disampaikan kepada saudara-saudara apakah yang akan saudara lakukan? Maukah saudara membuka topengmu?

Renungan Minggu - Bertopeng : Kebaikan atau Kejahatan? (Menghayati Masa Sengsara Tuhan Yesus)
Istimewa
Pdt Sugiyanti Pangemanan Supit Sth Mpdk 

Ada ungkapan yang mengatakan kejahatan memiliki banyak topeng dan topeng yang paling berbahaya adalah kebaikan. Orang sering terkecoh oleh penampilan-penampilan yang kelihatan baik. Orang dinilai baik bila penampilannya baik. Padahal dibalik penampilan baik tersebut ada kejahatan yang dibuat dan siap menerkam orang baik di dekatnya.

Saudaraku, media massa banyak kali mewartakan bahwa kejahatan sering dilakukan oleh orang – orang terdekat baik keluarga sendiri (suami, istri, anak) maupun tetangga atau orang di dekat kita. Contoh: dalam Liputan 6.com pembunuhan istri terhadap suami (wanita di Sumsel Nekat habisi suami demi hidup bersama kekasih gelapnya); menurut berita Tribun Manado, karena istri selingkuh dengan tetangga maka dihukum Adat dan diusir dari desa.

Jalan kejahatan pertama yang ditempuh untuk mencapai keinginan adalah kebaikan.
Topeng kebaikan sering kali sangat menonjol dan terasa sangat manis. Yang pasti taburan kebaikan tersebut mempunyai maksud jahat. Seperti istilah Take and give.

Di pihak lain istilah ini berdampak negatif karena mengandung arti pemberian yang menuntut balas. Seseorang memberikan sesuatu karena ia menuntut balas jasa bahkan lebih dari jumlah pemberian.

Saudara-saudaraku
Dunia banyak menawarkan kebaikan namun waspadalah dengan berbagai bentuk kebaikan. Kebaikan jangan terlau cepat ditolak. Dimana ada kebaikan, disitu ada kebenaran. Untuk menguji kebaikan sejati atau kejahatan bertopeng kebaikan, caranya melalui proses dan hasilnya. Jika proses dan hasilnya ternyata baik dan benar maka itulah kebaikan sejati.

Baca: Renungan Minggu : Orang Beriman Selalu Hidup Bersyukur

Baca: RENUNGAN MINGGU : Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian

Di masa minggu-minggu sengsara ini mari kita belajar dari Yesus Tuhan. Bahwa Ia terus melakukan kebaikan sekalipun Ia ditolak. Bukti nyata kebaikan sejati yang dilakukanNya adalah peristiwa salib. Melalui salib, Yesus menderita, disiksa dan ditikam sehingga Ia mengalami kematian.

Suatu proses penderitaan yang teramat berat ditanggungnya. Supaya manusia yang tadinya berada dalam ketidakbaikan oleh karena dosa-dosanya, diubahkan memiliki hidup damai sejahtera dengan Allah Bapa di Sorga. Peristiwa salib merubah hidup manusia dari tidak baik menjadi baik.

Marilah kita menebarkan kebaikan sejati. Kebaikan sejati telah dicontohkan dan disempurnakan oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Lakukanlah semua kebaikan dengan hati yang tulus dan murni. Biarlah landasan kebaikan yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan Tuhan bukan kesombongan diri atau kepentingan-kepentingan duniawi. Bila kita ada dalam ketidakbaikan karena perbuatan jahat maka segeralah bertobat memohon ampun kepada Tuhan.

Ingat, pengampunan dosa itu sulit dan mahal sekali, mengapa ? Pertama, karena Bapa di Sorga memberikan AnakNya yang Tunggal Yesus Kristus untuk disalibkan, mati dan dikuburkan. Suatu pekerjaan yang luar biasa Agung dan Mulia, yang tidak dapat dikerjakan oleh siapapun manusia di dunia ini.

Kedua, manusia sering mengatakan “bukan aku ya Tuhan”, artinya manusia sering tidak mau mengakui dengan jujur kejahatan yang dilakukan. Selain itu, sekalipun manusia mengatakan, bahwa ia telah berbuat jahat namun tetap melakukan kesalahan yang sama bahkan kesalahan lebih besar dari sebelumnya. Hal ini karena manusia menganggap remeh dan tidak berharga pengampunan yang dikerjakan Yesus di kayu salib.

Halaman
123
Penulis: Andrew_Pattymahu
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved