Renungan Minggu

Renungan Minggu - Bertopeng : Kebaikan atau Kejahatan? (Menghayati Masa Sengsara Tuhan Yesus)

Buka topengmu ! Bila kalimat ini disampaikan kepada saudara-saudara apakah yang akan saudara lakukan? Maukah saudara membuka topengmu?

Renungan Minggu - Bertopeng : Kebaikan atau Kejahatan? (Menghayati Masa Sengsara Tuhan Yesus)
Istimewa
Pdt Sugiyanti Pangemanan Supit Sth Mpdk 

Pdt Sugiyanti Pangemanan Supit Sth MPdk
* Dosen IAKN Manado

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Buka topengmu ! Bila kalimat ini disampaikan kepada saudara-saudara apakah yang akan saudara lakukan? Maukah saudara membuka topengmu? Salah satu syair lagu dari Ariel Perterpan mengatakan : buka dulu topengmu, biar kulihat warnamu”. Sebagian syair lagu ini dapat diartikan “bukalah topeng kepalsuan dirimu biar dilihat keaslianmu”.

Bertopeng sama artinya dengan bermuka dua. Pikiran dan perkataan bertolak belakang. Apa yang diucapkan berbeda dengan perbuatannya. Konsep ini tergolong sikap orang yang munafik. Munafik berasal dari kata hupokrithes artinya, seorang pemain drama atau sandiwara. Para pemain drama atau sadiwara akan melakonkan prilaku hidup yang berbeda dengan realita yang dialami.

Saudara-saudara kekasih dalam Tuhan Yesus,
Pembacaan alkitab Matius 26:20-25 menceritakan tentang pertemuan Yesus dengan murid-muridNya pada perayaan Perjamuan Paskah, sebelum Ia disalibkan. Ketika Yesus makan bersama murid-muridNya, Ia berkata : “...sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Perkataan Yesus yang halus dan lembut itu sebenarnya mau membuka topeng kejahatan yang dilakukan muridNya.

Yesus mengharapkan kesadaran yang sungguh dari muridNya untuk membuka topeng kejahatan. Apa yang diharapkan Yesus saat itu belum menjadi kenyataan karena semua muridNya mengatakan “bukan aku, ya Tuhan”.
Bahkan Yudas, seorang murid Yesus yang sementara ada dalam proses kejahatan pada Yesus mengatakan:

“bukan aku, ya Rabi”. Padahal saat itu Yudas telah menerima uang 30 keping perak untuk menyerahkan Yesus. Yesus sebenarnya sudah mengetahui apa yang dipikirkan dan akan dilakukan Yudas tersebut.

Baca: Renungan Minggu - Hidup Adalah Anugerah (Matius 16:21)

Baca: Renungan Minggu - Roh Yang Mempersatukan

Baca: Renungan Minggu: Mengandalkan Tuhan

Ketika mendengar jawaban Yudas, Ia berkata : “engkau telah mengatakannya”. Perkataan Yesus sebenarnya mau menegur dan memperingatkan Yudas bahwa apa yang telah dan akan dilakukannya adalah suatu kejahatan besar. Bila Yudas peka dengan perkataan Yesus maka ia akan menyadari kejahatan yang sudah dan akan dilakukannya.

Namun, Yudas tetap bertopeng dua. Gaya kemunafikan ditunjukkannya saat itu, dengan berkata “bukan aku, ya Rabi”. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati Yesus memiliki teman atau murid yang selalu bersama-sama dengan Dia seperti; makan, minum, tidur, berjalan, namun secara diam-diam berlaku jahat kepadaNya.

Di depan Yesus, Yudas berlaku seperti orang yang baik, mendengar dan menuruti perintah Yesus. Ia menunjukkan kebaikan pada Yesus dengan mengikuti setiap pelayanan Yesus. Tak lama sesudah itu, di taman Getsemani Yudas menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.

Tanda penyerahan dilakukan dengan ciuman. Lagi-lagi Yudas bertopeng kemunafikan. Kejahatan yang terus bertumbuh dari jawabannya atas perkataan Yesus, “bukan aku, ya Rabi”.
Saudara – saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus,

Halaman
123
Penulis: Andrew_Pattymahu
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved