Tajuk Tamu Tribun Manado

Mengeliminasi Calon Legislatif

menyingkirkan caleg melalui hak politik pada pemilihan umum dengan menilai tiga indikator penting yaitu: kualitas, rekam jejak, dan integritas.

Mengeliminasi Calon Legislatif
ISTIMEWA
Mutlaben Kapita 

Oleh:
Mutlaben Kapita
Mahasiswa Jurusan Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sam Ratulangi Manado

TERJAL dunia politik. Saling menegasikan antarpolitikus adalah lumrah dalam politik praktis. Akibatnya citra politik kian buruk di mata masyarakat. Politik dikonotasikan sesuatu yang tidak baik. Tak heran sebagian orang melabelkan politik sebagai hal yang kotor.

Namun,secara teoretis, politik esensialnya kontradiktif dengan apa yang dilabelkan. Karena secara sederhana, definisi politik bertujuan memperjuangkan kepentingan masyarakat secara umum. Pun demikian politik sebagai 'urat nadi' roda pemerintahan, karena melalui politiklah segala kebutuhan masyarakat di-pressur lewat keputusan politik yang melahirkan produk kebijakan publik (public policy ). Sehingga, sikap apolitis atau antipati terhadap politik merupakan akibat dari kekaburan memahami ilmu politik.

Hal senada dikatakan Berthold Brecht, seorang penyair Jerman. Menurutnya, buta yang terburuk adalah buta politik; dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik.

Ia lanjut mengatakan bahwa orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politikus buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional yang menguras kekayaan negeri.

Jelas apa yang dikatakan oleh Berthold Brecht di atas. Karena setiap penyelesaian kompleksitas masalah yang dirasakan masyarakat dapat diselesaikan lewat keputusan politik. Akan tetapi, konstruksi paradigma masyarakat yang demikian berpangkal dari buruknya kinerja anggota legislatif.

Sebagaimana dikatakan Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus yang menilai tidak ada yang patut dibanggakan dari DPR dalam menjalankan fungsi legislasinya. Lucius menilai kinerja DPR periode ini adalah yang paling buruk, sejak era reformasi.

Ia pun menjelaskan bahwa untuk tahun pertama pemerintahan terdapat tiga RUU yang disahkan. Selanjutnya di tahun kedua mengalami peningkatan, terdapat 10 RUU yang disahkan. Namun, di tahun ketiga mulai merosot, DPR hanya mengesahkan enam RUU. Dan di tahun keempat, hanya ada empat RUU yang disahkan oleh DPR.

Di tambah lagi dengan banyaknya anggota legislatif yang kini mendekam di balik jeruji besi karena melakukan tindak korupsi sehingga menambah krisis kepercayaan masyarakat terhadap anggota legislatif selaku representatif di lembaga legislatif. Pula timbul skeptisisme masyarakat dalam memberikan hak politik dalam pemilihan.

Mengeliminasi Caleg Lewat Hak Politik

Halaman
123
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved