Kamis, 9 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pilpres 2019

Pengamat Politik Sulut: Debat Capres Berpengaruh Besar pada Pemilih Politis

Kata Liando, tipologi pemilih Indonesia terbentuk pada empat karakter yakni pemilih politis, pemilih sosiologis, pemilih pragmatis, dan pemilih apatis

Penulis: Finneke Wolajan | Editor: maximus conterius
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Pendukung pasangan calon nomor urut 1 mengikuti siara debat di Rumah Aspirasi Rakyat di Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Debat calon presiden mengandung pesan politik yang bisa menjadi referensi publik untuk memilih atau tidak memilih serta sebagai bentuk pengawasan publik jika capres terpilih.

"Pertanyaan kemudian adalah pertama apakah debat capres akan memengaruhi elektabilitas capres. Kedua, bagaimana mekanisme debat yang ideal agar dapat memengaruhi elektabilitas capres," ujar pengamat politik Sulawesi Utara kepada Tribunmanado.co.id, Ferry Liando, Minggu (20/1/2019).

Tipologi pemilih di Indonesia terbentuk pada empat karakter yakni pemilih politis, pemilih sosiologis, pemilih pragmatis, dan pemilih apatis.

Pemilih politis yaitu pilihan seseorang berdasarkan pada kemampuan dan kapasitas yang dimiliki seorang calon. Pemilih percaya bahwa yang dipilihnya didasarkan pada rekam jejak yang baik dari calon.

Baca: Debat Capres, Pengamat: Jokowi seperti Pendatang Baru dan Emosional, Prabowo Lebih Enjoy

Baca: Debat Pilpres 2019 - Ferry Liando: Tak Pengaruhi Pemilih

"Pemilih sosiologis yaitu sikap politik pemilih terhadap calon ditentukan berdasarkan karena kesamaan identitas. Seperti kesamaan suku, kesamaan agama kesamaan profesi atau kesamaan asal usul. Ketertarikan pemilih karena kedekatan hubungan secara emosional. Dia tidak peduli dengan kapasitas atau kualitas calon," ujar dosen Universitas Sam Ratulangi Manado ini.

Pemilih pragmatis yakni pemilih yang memilih calon berdasarkan apa yang ia terima. Ia akan memilih kalau ada imbalan. Jadi kepada siapa ia akan memilih tergantung dari siapa yg memberikannya barang atau uang. Pemilih apatis yakni pemilih yang tidak percaya dengan pemilu apalagi dengan calonnya.

"Dalam kondisi tertentu tipe pemilih ini tidak lagi menyatakan sikap untuk memilih. Hal ini terjadi karena pemilih ini berada dalam posisi zona nyaman. Apapun hasil pemilu, tidak akan lagi memengaruhi nasibnya," ujarnya.

BERITA POPULER:

Baca: Pakai BPJS Kesehatan Tak Lagi 100% Gratis, Berikut Daftar Rincian Biaya yang Harus Dibayar Peserta!

Baca: Pembunuhan Ayah Tiri di Kairagi, Pelaku Sempat Lari ke Bitung hingga Ditangkap di Kuburan

Baca: Viral Video Perkelahian Siswi SMP dan SMK di Tondano, Berawal dari Cinta Segitiga

Faktor lainnya adalah ketidakpercayaan pemilih terhadap sistem atau politisi. Sebab siapapun yang akan terpilih maka tidak ada sesuatu yang akan berubah terhadap keadaannya.

Pemilih ini trauma dengan kondisi kekinian tentang janji-janji politisi yang tidak terealisasi.

"Hasil debat kemungkinan besar hanya bisa berpengaruh pada karakteristik pemilih politis. Namun pemilih yang bisa juga disebut pemilih rasional ini populasinya sangat sedikit. Persebarannya hanya di sebagian wilayah perkotaan, ataupun di perguruan tinggi. Ujian terberat bagi efektivitas debat adalah pada soal mekanisme," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved