Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jokowi Rebut Massa Mengambang: Begini Cara PDIP Sulut Gaet Milenial

Swing voters (massa mengambang) yang jumlah mencapai 25 persen jadi rebutan kubu pasangan calon

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
ISTIMEWA
Anggota DPRD Sulawesi Utara fraksi PDI Perjuangan, Adriana Dondokambey 

Tipologi pemilih di Indonesia terbentuk pada empat karakter, yakni pemilih politis, pemilih sosiologis, pemilih pragmatis dan pemilih apatis. Pemilih politis, yaitu pilihan seseorang berdasarkan pada kemampuan dan kapasitas yang dimiliki seorang calon. Pemilih percaya bahwa yang dipilihnya didasarkan pada rekam jejak yang baik dari calon.

Pemilih sosiologis, sikap politik pemilih terhadap calon ditentukan berdasarkan karena kesamaan identitas. Seperti kesamaan suku, kesamaan agama kesamaan profesi atau kesamaan asal usul. Ketertarikan pemilih karena kedekatan hubungan secara emosional. Dia tidak peduli dengan kapasitas atau kualitas calon.

Pemilih pragmatis, pemilih yang memilih calon berdasarkan apa yang ia terima. Ia akan memilih kalau ada imbalan. Jadi kepada siapa ia akan memilih tergantung dari siapa yang memberikannya barang atau uang.

Pemilih apatis, pemilih yang tidak percaya dengan pemilu apalagi dengan calonnya. Dalam kondisi tertentu tipe pemilih ini tidak lagi menyatakan sikap untuk memilih. Hal ini terjadi karena pemilih ini berada dalam posisi zona nyaman. Apapun hasil pemilu, tidak akan lagi mempengaruhi nasibnya.

Faktor lainnya adalah ketidakpercayaan pemilih terhadap sistem atau politisi. Sebab siapapun yang akan terpilih maka tidak ada sesuatu yang akan berubah terhadap keadaannya. Pemilih ini trauma dengan kondisi kekinian tentang janji-janji politisi yang tidak terealisasi.

Hasil debat kemungkinan besar hanya bisa berpengaruh pada karakteristik pemilih politis. Namun pemilih yang bisa juga disebut pemilih rasional ini populasinya sangat sedikit.

Persebarannya hanya di sebagian wilayah perkotaan, ataupun di perguruan tinggi. Ujian terberat bagi efektifitas debat adalah pada soal mekanisme. (Tribun/rpc/dtc/kps/art/fin)

Vox Populi

"Belum ada yang menarik debat pertama ini, tapi Jokowi masih layak, sehingga kita harus memberi kesempatan untuk menyelesaikan program yang belum sempat selesai"
Vian Sujai
Pemuda Pineleng

"Terserah siapa yang akan jadi selanjutnya, kalau saya akan tetap Jokowi"
Natalia Loho
Pemudi Perkamil

"Debat ini terasa kaku, tapi penjelasan Jokowi sejalan dengan tema debat, sedangkan Prabowo sedikit ngawur dan selalu membahas penyelesaian masalah dengan uang"
L Mekel
Pemudi Pineleng

"Kenapa kita pe pilihan jatuh ke Pak Prabowo karena torang pe Negara Ini harus di pimpin pleh orang yang tegas seperti pak Prabowo"
Fahri Laudje
Pemuda Buha

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved