Jumat, 24 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Debat Rematch Jokowi-Prabowo Bakal Panas, Wagub: Pemilu Ibarat Sarapan Pagi

Partai rematch, debat calon presiden 2019 dipastikan panas! Dua pasangan capres-cawapres siap adu gagasan di panggung pilpres

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
ist
Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Steven Kandouw 

Ketua Tidar Sulut, Aif Darea hakul yakin Prabowo bisa mempecundangi lawannya dalam debat tersebut. "Saya optimistis Prabowo bisa tampil prima hingga elektabilitasnya terangkat,” kata dia.

Tak banyak yang tahu jika Prabowo memiliki banyak anak binaan berdarah Kawanua. Jumlah mereka ratusan. Home basenya di Hambalang, Bogor, Jabar.

Mereka berasal dari sejumlah daerah di Minahasa dan Sangihe.
Para pemuda ini diberi beasiswa pendidikan gratis serta pekerjaan.

Banyak diantaranya tergabung dalam drum band Canka Garuda Yaksa binaan Prabowo. Jangan heran jika acara di kediaman Prabowo di Hambalang selalu ada saja atraksi budaya Kawanua. Pementasnya ya para putra Kawanua binaan Prabowo.

Nah dalam Pilpres kali ini, para putra Kawanua ini dapat tugas khusus. "Mereka dapat tugas khusus," kata Sekretaris DPD Gerindra Sulut Melky Suawa kepada tribunmanado.co.id.

Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ketika pencabutan nomor urut Capres dan Cawapres Pemilu 2019 di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/9). Jokow-Ma'aruf Amin mendapat No 01, sementara Prabowo-Sandi No 02.
Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin serta Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ketika pencabutan nomor urut Capres dan Cawapres Pemilu 2019 di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (21/9). Jokow-Ma'aruf Amin mendapat No 01, sementara Prabowo-Sandi No 02. (Warta Kota/Henry Lopulalan))

Capres Harus Tegas soal Korupsi

Korupsi masih menjadi isu seksi pada debat capres kali ini. Salah satu penyakit bangsa, masih merajalela pelaku korupsi.

Mekanisme pencegahan tidak cukup kalau hanya munculnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga independen.

Sebab ketika lembaga ini hadir, angka korupsi terus meningkat. Kelemahan utama dalam usaha pencegahan adalah sanksi hukum yang tidak membuat efek jera para pelaku.

Sanksi selama ini hanya sebatas pada kurungan badan. Hukuman ini ternyata tidak efektif. Ada yang telah menyelesaikan hukuman penjara, namun tetap kaya raya.

Bahkan UU tidak mencabut hak-hak politik pada mantan narapidana. Sebagian masih bisa terpilih sebagai kepala daerah dan sebagian masih bisa mencalonkan diri sebagai calon legislatif.

Inilah akibat dari ketidaktegasan dalam pencegahan korupsi. Ada dua alternatif wacana yang sering diisukan bagi pelaku, yakni pemberlakuan hukuman mati atau pemiskinan.

Wacana hukuman mati masih juga banyak yang menentang karena melanggar HAM. Tindakan pemiskinan juga ditentang karena bermasalah dari sisi kemanusiaan. Oleh karena itu pencegahan korupsi terus bermasalah.

Oleh karena itu, dibutuhkan sikap dari siapa pun capres apakah akan memilih hukuman mati atau memilih tindakan pemiskinan.

Hanya dengan cara-cara seperti itu maka korupsi bisa dicegah. Sikap masing-masing capres akan sangat menentukan proses penuntasan masalah korupsi. (fin/ryo/art)

Halaman 2/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved