Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Edukasi

Penilaian Deskriptif dalam Pendidikan

Dalam segi penilaian prestasi siswa misalnya, guru tak lagi memberikan penilaian yang kuantitatif namun kini ditempuh cara penilaian kualitatif.

Editor:

Perbedaan tipis itu tak akan kelihatan jika dinilai dalam bentuk uraian deskriptif.

Namun, persoalan itu bukan hal yang esensial mengingat prestasi akademis kini bukan lagi menjadi faktor utama dalam kurikulum baru, setelah posisinya digeser oleh faktor integritas atau sikap siswa dalam berinteraksi dengan sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Mengutamakan integritas dalam proses pendidikan merupakan pilihan jitu mengingat perkara ini kini menjadi masalah besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tak perlu dipungkiri bahwa dalam beberapa tahun terakhir, aksentuasi pada prestasi akademis, dengan mudahnya menjebak pemangku kepentingan dunia pendidikan di Tanah Air masuk ke praktek culas saat penyelenggaraan ujian nasional diterapkan.

Berbagai kasus kecurangan dalam ujian nasional telah terkuak dan yang menyedihkan, kecurangan itu bahkan ditenggang oleh para pendidik.

Kini implementasi ujian nasional untuk sekolah dasar sudah ditiadakan. Sebuah babak baru dalam dunia pendidikan dasar.

Sesungguhnya bukan babak baru sama sekali, karena jauh sebelum kegandurungan ujian nasional yang merupakan bagian dari pola pendidikan liberal di negeri maju diterapkan, pendidikan dasar tak dijalankan dengan menyelenggarakan ujian nasional.

Kini upaya yang perlu dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyukseskan Kurikulum 2013 adalah fokus pada pelatihan pada guru-guru, termasuk memberikan pelatihan dalam mengevaluasi siswa secara deskriptif.

Dalam penilaian deskriptif, guru dituntut mengamati latar kehidupan siswa untuk memberikan gambaran yang adil terhadap masing-masing siswa. Misalnya, dua orang siswa yang sama-sama hebat dalam pelajaran matematika, penilaian deskriptifnya tentu berbeda mengingat latar belakang siswa itu yang umumnya tidak sama.

Misalkan dua siswa yang sama-sama berprestasi dalam matematika itu punya latar belakang kehidupan yang berbeda, yang satu dari keluarga berada dengan fasilitas belajar yang lengkap dan berkesempatan mengikuti kursus privat, sementara yang satunya lagi dari keluarga pas-pasan, tentunya harus ada penilaian deskriptif yang berbeda.

Pasti ada usaha-usaha ekstra keras dari siswa yang berasal dari keluarga pas-pasan itu untuk mendapatkan nilai yang tinggi karena dia tidak didukung dengan fasilitas belajar yang memadai.

Sastrawan Putu Widjaja pernah mengatakan: anak pengusaha besar yang lulus dari universitas unggulan tentu harus dinilai berbeda dengan anak petani gurem yang juga lulus dari universitas yang sama. Di sinilah inti penilaian deskriptif dalam dunia pendidikan.

Tentu yang harus diperhatikan oleh guru dalam melakukan penilaian destriptif adalah menghindarkan pemberian stigma negatif dalam bentuk pernyataan verbal.

Dalam dunia pendidikan dasar, penilaian diharapkan menjadi faktor penggugah, penyemangat dan bukan melahirkan pesimisme dalam kejiwaan siswa. Ini tidak berarti bahwa guru harus memberikan penilaian yang tak berdasar fakta.

Penilaian harus faktual. Namun, berangkat dari yang faktual itulah guru bisa memberikan penilaian yang membangkitkan semangat siswa untuk belajar lebih keras dan lebih baik di kemudian hari. (antara)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved