Edukasi
Penilaian Deskriptif dalam Pendidikan
Dalam segi penilaian prestasi siswa misalnya, guru tak lagi memberikan penilaian yang kuantitatif namun kini ditempuh cara penilaian kualitatif.
Oleh Mulyo Sunyoto
TRIBUNMANADO.CO.ID- Ada pergeseran paradigma yang signifikan dalam dunia pendidikan di Tanah Air sejak diberlakukannya Kurikulum 2013.
Dalam segi penilaian prestasi siswa misalnya, guru tak lagi memberikan penilaian yang kuantitatif namun kini ditempuh cara penilaian kualitatif.
Rapor siswa tak akan berisi angka-angka seperti sebelumnya, namun berisi uraian deskriptif yang menggambarkan kondisi kualitaif siswa dalam mengikuti pemelajaran di kelas.
Banyak segi positif yang diperoleh dengan paradigma penilaian semacam ini.
Dengan jalan ini, penilaian guru terhadap siswa diharapkan tidak mereduksi pribadi-pribadi dalam angka-angka. Tentu deskripsi sebetulnya juga merupakan reduksi jika diingat bahwa sebuah prestasi pribadi seorang siswa tak pernah sesederhana yang diuraikan satu dua paragraf.
Penilaian deskriptif juga bisa menghindarkan seorang siswa dengan gampangnya dicap sebagai siswa bodoh, pas-pasan atau cerdas. Sejarah perjalanan sekolah seseorang tidak memperlihatkan ada korelasi antara penilaian guru berdasarkan angka-angka di kelas dengan prestasi di dalam kehidupan mereka di kemudian hari.
Banyak anak-anak yang tergolong juara atau di atas rata-rata dalam prestasi akademis mereka semasa belajar di bangku sekolah ternyata tidak menjadi orang yang sukses dalam menempuh karir dalam hidup mereka di kemudian hari.
Sebaliknya, tak sedikit siswa yang semasa belajar di bagku sekolah tergolong bodoh atau pas-pasan pada akhirnya berhasil sebagai pengusaha yang ulet, mandiri dan pencipta lapangan kerja bagi mereka yang tergolong pintar di kelas.
Tentu banyak variabel yang menciptakan kondisi seperti itu. Jadi tak bisa ditarik kesimpulan yang tergesa-gesa bahwa anak yang pas-pasan di sekolah akan terpacu untuk menjadi pribadi yang ulet dan mandiri ketika harus berjuang dalam kehidupan mereka di kala dewasa.
Di satu sisi ada banyak segi positif yang bisa didapat dari perubahan paradigma pendidikan dengan berlakunya Kurikulum 2013, di sisi lain masih ada kendala dalam implementasi kurikulum baru itu di lapangan.
Ternyata masih banyak guru-guru yang belum paham bagaimana cara membuat penilaian deskriptif itu.
Tentu hambatan semacam ini bisa dimaklumi. Guru-guru yang selama ini, selama bertahun-tahun sudah terbiasa memberikan penilaian kuantitatif dalam bentuk angka-angka, pasti mengalami kesulitan dalam memberikan penilaian deskriptif.
Diperlukan perubahan mind set pada guru untuk bisa mulai membiasakan diri memberikan penilaian berdasarkan uraian verbal deskriptif itu.
Guru pelajaran matematika, yang selama ini dengan mudahnya memberikan nilai kuantitatif pada siswa berdasar capaian nilai siswa dalam menguasai matematika, akan kebingungan bagaimana membahasakan seorang siswa yang bernilai sembilan dalam matematika dengan siswa yang mendapat nilai delapan.