Catatan Seorang Jurnalis
Teror Pok Pok di Manado
Kamis manis berubah menjadi darah dan ketegangan, saat saya nonton film itu bersama ratusan orang di Lippo Plaza Manado.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Ringkasan Berita:
- Kamis manis berubah menjadi darah dan ketegangan, saat saya nonton film itu bersama ratusan orang di Lippo Plaza Manado.
- Harus saya akui, Songko sukses sebagai film horor.
- Ketakutan jadi candu, hingga seolah tak ada pilihan bagi saya selain terus menyaksikan film itu hingga selesai.
Songko tengah go public.
Hantu dari Minahasa ini menasional lewat pemutaran film "Songko" yang mulai tayang di bioskop sejak Kamis (23/4/2026).
Saya sesungguhnya sangat anti film horor.
Tapi demi menyaksikan Songko yang sudah sangat viral sebelum diputar (katanya produk Manado tak pernah gagal), saya memutuskan menanggalkan kebencian itu, setidaknya untuk satu malam.
Kamis manis berubah menjadi darah dan ketegangan, saat saya nonton film itu bersama ratusan orang di Lippo Plaza Manado.
Harus saya akui, Songko sukses sebagai film horor.
Ketakutan jadi candu, hingga seolah tak ada pilihan bagi saya selain terus menyaksikan film itu hingga selesai.
Padahal sebelum nonton saya sudah berjanji untuk berada di sana tak lebih dari setengah jam.
Narasi hantu tersusun dari keseharian orang Minahasa; Cap tikus, mabuk, bahasa belanda, paduan suara, gereja, karlota dan lainnya.
Ini membuat teror serasa di beranda rumah kita.
Dan memori gelap film itu terus terbawa dalam perjalanan saya menuju rumah.
Dalam kungkungan memori itu, ingatan kembali pada belasan tahun lalu, saat saya masih wartawan baru.
Kala itu, viral teror pok pok, hantu yang mirip Songko, di salah satu kampung di Manado.
Malam datang, begitu pun ketakutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Songko-Go-Public.jpg)