Catatan Seorang Jurnalis
Teror Pok Pok di Manado
Kamis manis berubah menjadi darah dan ketegangan, saat saya nonton film itu bersama ratusan orang di Lippo Plaza Manado.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Tanpa logika, bangsa ini akan terus berjalan di tempat. Pikiran mistik dapat melahirkan sikap pasrah, bahkan tunduk tanpa pertanyaan.
Namun ironi muncul.
Di tengah kemajuan zaman, mistik justru kerap menemukan ruang baru.
Bahkan dalam dunia politik, keputusan sering kali tak lepas dari hitungan gaib dan primbon.
Apakah Tan Malaka kalah?
Saya kira tidak. Harapan itu masih ada. Ia hidup dalam generasi muda milenial dan Gen Z yang mulai akrab dengan cara berpikir kritis.
Di Manado, misalnya, buku Madilog justru menjadi buku yang paling diminati di Gramedia.
Mungkin, di situlah kita menemukan keseimbangan.
Bahwa horor seperti Songko tetap bisa dinikmati sebagai karya budaya, sebagai cerita, sebagai hiburan.
Namun di saat yang sama, kehidupan nyata menuntut lebih dari sekadar rasa takut. Ia menuntut keberanian untuk berpikir. (Arthur Rompis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Songko-Go-Public.jpg)