Catatan Seorang Jurnalis
Teror Pok Pok di Manado
Kamis manis berubah menjadi darah dan ketegangan, saat saya nonton film itu bersama ratusan orang di Lippo Plaza Manado.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Tapi dasar orang Manado, ketakutan hanya suatu sisi.
Sisi lainnya adalah rasa kepo. Rasa ingin tahu yang kelewat besar membuat kampung itu justru didatangi banyak warga yang penasaran dengan Pok Pok.
Saya coba bercerita dari tulisan teman wartawan saya.
Malam (30/9/2010). Jarum jam menunjuk pukul 22.30 Wita.
Gelap mencekam di salah satu sudut yang tak jauh dari pusat kota Manado.
Ada lampu jalan tapi belum seterang saat ini.
Namun suasana bak siang. Ada banyak orang yang berkerumun.
Jalan depan lorong penuh dengan sepeda motor dan mobil yang parkir.
Ada hening sejenak lantas keriuhan pecah. Heboh. Semua orang berteriak bersahut-sahutan.
"Napa dia so datang ulang (Ini, dia datang lagi)," ucap ratusan warga serentak seperti koor.
Dan memang benar Pok Pok itu muncul.
Wartawan menjadi saksi kemunculannya.
Terlihat seperti ada bola api yang melayang- layang di udara sekitar jarak 20 meter.
Bola api ini berwarnah merah ke-oranyean.
Sesekali ia mendekat ke kerumunan warga, namun sesekali juga ia menjauh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Songko-Go-Public.jpg)