Senin, 15 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Dari Wisma Lorenzo, Diutus untuk Keluarga

Workshop di Wisma Lorenzo sesungguhnya bukan hanya tentang pembinaan pembina KPP. Ia adalah tentang masa depan: Gereja, masyarakat, dan kemanusiaan.

Tayang:
Dokumentasi Pribadi
Herkulaus Mety 

Lebih dari itu, Allah sendiri memilih hadir ke dunia melalui sebuah keluarga. Misteri inkarnasi menunjukkan bahwa Yesus tidak datang sebagai pribadi dewasa yang turun dari langit. Ia lahir dalam keluarga Nazaret, dibesarkan oleh Maria dan Yosef, bertumbuh dalam relasi keluarga, dan belajar menjalani kehidupan manusia secara utuh.

Fakta ini memiliki implikasi teologis yang luar biasa: Allah mempercayakan karya keselamatan-Nya kepada keluarga. Karena itu, setiap upaya memperkuat keluarga pada hakikatnya adalah bagian dari memperkuat karya keselamatan Allah dalam sejarah manusia.

Belas Kasih yang Menjadi Dasar Perutusan

Bacaan Injil yang menjadi inspirasi workshop menghadirkan kalimat yang sangat penting: “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan.” Dalam Kitab Suci, setiap perutusan lahir dari belas kasih.

Musa diutus karena Allah mendengar jeritan bangsa Israel (Kel. 3:7). Para nabi diutus karena Allah melihat penderitaan umat-Nya. Para rasul diutus karena Yesus melihat manusia yang terlantar seperti domba tanpa gembala. Belas kasih selalu mendahului misi. Karena itu, pendampingan keluarga tidak boleh semata-mata menjadi aktivitas administratif. Pendamping KPP tidak dipanggil untuk menjadi birokrat sakramen, melainkan wajah belas kasih Allah.

Pasangan yang datang mengikuti KPP sering membawa berbagai pergumulan yang tidak terlihat di permukaan: luka keluarga masa kecil, trauma psikologis, ketakutan terhadap komitmen, kecemasan ekonomi, konflik komunikasi, bahkan pengalaman relasi yang gagal. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan tentang hukum Gereja. Mereka membutuhkan pendampingan yang manusiawi, penuh empati, dan membebaskan.

Model pendampingan seperti ini tampak jelas dalam kisah dua murid Emaus (Luk. 24:13-35). Yesus tidak menghakimi mereka. Ia berjalan bersama mereka, mendengarkan mereka, membantu mereka memahami pengalaman hidupnya, lalu membuka mata mereka. Di sinilah paradigma pastoral keluarga modern menemukan bentuknya: bukan mengontrol, melainkan menemani; bukan menghakimi, melainkan menyembuhkan; bukan sekadar mengajar, melainkan menghadirkan kasih Allah secara konkret.

Krisis Perkawinan dan Tantangan Zaman

Dari perspektif sosiologis, keluarga modern sedang mengalami perubahan yang sangat cepat. Kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat. Namun pada saat yang sama, teknologi juga menciptakan tantangan baru yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya.

Media sosial mengubah pola komunikasi keluarga. Smartphone sering lebih menarik daripada percakapan suami-istri. Anak-anak tumbuh dalam dunia digital yang sering kali lebih berpengaruh daripada pendidikan keluarga.

Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut fenomena ini sebagai liquid modernity, yakni masyarakat yang ditandai oleh relasi-relasi yang cair dan mudah berubah (Bauman, Liquid Modernity, 2000).

Dalam masyarakat yang cair, komitmen jangka panjang sering dianggap beban. Hubungan dinilai berdasarkan kepuasan sesaat. Budaya seperti ini bertentangan dengan hakikat perkawinan Kristiani yang dibangun atas dasar kesetiaan, pengorbanan, dan ketekunan. Karena itu pendidikan, pembinaan dan kursus persiapan perkawinan menjadi semakin penting. Pasangan muda perlu dibantu memahami bahwa cinta bukan hanya perasaan romantis, melainkan keputusan moral yang diperbarui setiap hari.

Membangun Kematangan Emosional

Salah satu penyebab utama kegagalan perkawinan bukan kurangnya cinta, melainkan kurangnya kematangan emosional. Dari perspektif psikologis, banyak pasangan memasuki perkawinan dengan harapan yang tidak realistis. Mereka menginginkan pasangan yang sempurna, keluarga yang selalu harmonis, dan kehidupan yang bebas konflik. Padahal konflik merupakan bagian normal dari kehidupan perkawinan.

Psikolog keluarga John Gottman menunjukkan bahwa keberhasilan perkawinan tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya konflik, melainkan oleh kemampuan pasangan mengelola konflik secara sehat (Gottman, The Seven Principles for Making Marriage Work, 1999).

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
Live
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved