Opini
Dari Wisma Lorenzo, Diutus untuk Keluarga
Workshop di Wisma Lorenzo sesungguhnya bukan hanya tentang pembinaan pembina KPP. Ia adalah tentang masa depan: Gereja, masyarakat, dan kemanusiaan.
Oleh:
Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado
"Peradaban tidak pertama-tama dibangun di gedung parlemen, ruang sidang pengadilan, kampus, atau pasar. Peradaban dibangun di ruang makan keluarga, di kamar tempat anak belajar berdoa, dan di hati suami-istri yang memilih untuk tetap setia ketika dunia mengajarkan sebaliknya."
DI tengah gegap gempita kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, revolusi digital, dan transformasi sosial yang berlangsung begitu cepat, ada satu institusi yang diam-diam sedang menghadapi ujian paling berat dalam sejarah modern: keluarga.
Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, keluarga tidak lagi hanya menghadapi tantangan ekonomi sebagaimana generasi-generasi sebelumnya. Keluarga kini berhadapan dengan perubahan budaya yang fundamental: individualisme yang menguat, relativisme moral, menurunnya kualitas komunikasi antaranggota keluarga, krisis kesehatan mental, pornografi digital, budaya instan, serta menurunnya daya tahan relasi dalam menghadapi konflik.
Di tengah situasi tersebut, perkawinan tidak jarang dipandang sebagai kontrak sementara yang dapat diakhiri ketika kebahagiaan pribadi dianggap tidak lagi terpenuhi. Kesetiaan sering dipersepsikan sebagai pilihan, bukan komitmen. Pengorbanan dianggap kelemahan. Sementara cinta direduksi menjadi emosi yang mudah berubah mengikuti suasana hati.
Dalam konteks inilah workshop Tim Pendamping/Pembina Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) Paroki se-Keuskupan Manado yang berlangsung di Wisma Lorenzo Lotta, Pineleng, 12-14 Juni 2026, menemukan makna strategis, profetis, dan historisnya. Kegiatan yang diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai paroki ini bukan sekadar pelatihan teknis bagi para fasilitator perkawinan, melainkan sebuah investasi pastoral jangka panjang untuk menyelamatkan masa depan keluarga, Gereja, dan masyarakat.
Workshop ini lahir dari kesadaran bahwa pembinaan keluarga tidak dapat dilakukan secara sporadis dan seremonial. Komisi Keluarga Keuskupan Manado menyadari bahwa pelatihan pembina KPP terakhir dilaksanakan pada tahun 2018, sementara sebagian besar fasilitator yang saat ini bertugas merupakan tenaga baru yang belum pernah memperoleh pembekalan yang memadai. Karena itu diperlukan penyegaran, standardisasi materi, penguatan kapasitas fasilitator, serta penyelarasan visi pastoral keluarga di seluruh Keuskupan Manado.
Puncak refleksi workshop terjadi pada Perayaan Ekaristi penutupan yang dipimpin Uskup Manado, Mgr Benedictus Estpephanus Rolly Untu MSC. Dalam homilinya yang terinspirasi Injil Matius 9:36–10:8, beliau mengingatkan bahwa Yesus tidak bekerja sendiri. Ia membentuk tim, mendidik para murid, hidup bersama mereka, lalu mengutus mereka melanjutkan karya keselamatan Allah.
Pesan itu sesungguhnya bukan hanya sebuah motivasi pastoral. Ia adalah sebuah visi teologis yang sangat mendalam: keluarga merupakan bagian dari karya keselamatan Allah, dan para pendamping keluarga adalah rekan sekerja Allah dalam karya besar tersebut.
Keluarga dalam Grand Design Keselamatan Allah
Dari perspektif teologis, keluarga bukanlah sekadar institusi sosial yang dibentuk oleh budaya manusia. Keluarga merupakan bagian integral dari rencana keselamatan Allah.
Kitab Kejadian menggambarkan bahwa sebelum membangun bangsa, sebelum membentuk kerajaan, bahkan sebelum mendirikan umat pilihan, Allah terlebih dahulu membangun keluarga. Adam dan Hawa menjadi fondasi pertama sejarah keselamatan manusia.
Karena itu, ketika Uskup Rolly menegaskan bahwa karya keselamatan Allah merupakan grand design yang dimulai sejak Adam dan Hawa dan terus berlangsung hingga saat ini, ia sedang mengingatkan Gereja bahwa pelayanan keluarga bukanlah kegiatan tambahan, melainkan jantung misi Gereja.
Paus Santo Yohanes Paulus II dalam Familiaris Consortio (1981) menegaskan bahwa masa depan dunia dan Gereja berjalan melalui keluarga (John Paul II, Familiaris Consortio, 1981). Pernyataan tersebut tetap relevan hingga hari ini.
Dalam perspektif Kristiani, keluarga bukan hanya tempat manusia lahir secara biologis, tetapi juga tempat manusia belajar menjadi manusia. Keluarga adalah sekolah pertama kasih, solidaritas, pengampunan, dan iman.
Kursus Persiapan Perkawinan
Keuskupan Manado
Komisi Keluarga Konferensi Waligereja Indonesia
Gereja Katolik
Keluarga Katolik
Herkulaus Mety
| Menandatangani Berita Acara Pekerjaan yang Belum Selesai Bisa Berujung Pidana Korupsi |
|
|---|
| Mengangkat Pandangan, Memulihkan Harapan: Membaca Kunjungan Paus Leo ke Spanyol |
|
|---|
| Krisis Kepercayaan: Rekonstruksi Ethos, Logos, dan Pathos Pemerintah Indonesia |
|
|---|
| Cicipan Surga Itu Adalah Bola |
|
|---|
| Istana, Buruh, dan Demokrasi yang Sedang Diuji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Herkulaus-Mety.jpg)