Sabtu, 13 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Mengangkat Pandangan, Memulihkan Harapan: Membaca Kunjungan Paus Leo ke Spanyol

Dalam banyak kesempatan selama kunjungannya, Paus Leo XIV menekankan solidaritas dengan migran, kaum miskin, dan mereka yang terpinggirkan.

Tayang:
Instagram @pontifex
Paus Leo XIV memberkati seorang anak imigran dalam kunjungan apostoliknya di Gran Canaria, Spanyol, Kamis (11/6/2026). 

Oleh: 
Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado

DI tengah dunia yang semakin gaduh oleh polarisasi politik, krisis migrasi, sekularisasi, perang identitas, kecemasan generasi muda, dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi publik, Paus Leo XIV memilih datang ke Spanyol bukan sekadar sebagai kepala negara kecil bernama Vatikan atau pemimpin 1,4 miliar umat Katolik. Ia datang sebagai peziarah harapan.

Tema kunjungan apostoliknya, “Alzada la mirada” (angkatlah pandanganmu), bukan hanya slogan pastoral. Ia merupakan seruan profetis yang mengajak manusia modern keluar dari jebakan pesimisme, ketakutan, dan egoisme menuju horizon yang lebih luas: Allah, sesama manusia, dan masa depan bersama.

Lawatan apostolik ke Madrid, Barcelona, dan Kepulauan Canary pada 6–12 Juni 2026 menjadi salah satu perjalanan internasional paling penting pada awal masa kepausan Leo XIV. Selain bertemu Raja Felipe VI, Ratu Letizia, Perdana Menteri Pedro Sánchez, dan Parlemen Spanyol, Paus juga mengunjungi proyek sosial untuk kaum miskin, berdialog dengan kaum muda, serta meresmikan Menara Yesus Kristus di Basilika Sagrada Familia yang bertepatan dengan 100 tahun wafatnya Antoni Gaudí.

Lebih dari sekadar agenda diplomatik dan seremonial, kunjungan ini merupakan teks sosial yang kaya makna teologis, filosofis, etis, politik, dan pastoral. Ia mengandung pesan yang sangat relevan tidak hanya bagi Spanyol dan Eropa, tetapi juga bagi Gereja universal, termasuk Indonesia.

Mengangkat Pandangan: Sebuah Seruan Teologis dan Biblis

Tema “Angkatlah Pandanganmu” memiliki akar yang sangat kuat dalam Kitab Suci. Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata: “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Angkatlah matamu dan lihatlah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yohanes 4:35).

Perintah untuk mengangkat pandangan merupakan undangan untuk melihat realitas dari perspektif Allah. Dalam tradisi biblis, dosa sering kali membuat manusia menunduk pada dirinya sendiri. Santo Agustinus menyebut dosa sebagai incurvatus in se, manusia yang melengkung ke dalam dirinya sendiri (Augustine, Confessions, sekitar tahun 400).

Sebaliknya, iman mengangkat manusia keluar dari keterkungkungan ego menuju relasi dengan Tuhan dan sesama. Dalam konteks kunjungan Paus Leo XIV, ajakan ini memiliki tiga dimensi teologis.

Pertama, mengangkat pandangan kepada Allah. Dunia modern sering terjebak dalam apa yang disebut Charles Taylor dalam A Secular Age (2007) sebagai “immanent frame”, yakni cara berpikir yang hanya mengakui realitas duniawi dan menyingkirkan dimensi transenden.

Kedua, mengangkat pandangan kepada sesama manusia. Dalam banyak kesempatan selama kunjungannya, Paus menekankan solidaritas dengan migran, kaum miskin, dan mereka yang terpinggirkan. Ia mengunjungi proyek sosial bagi tunawisma di Madrid sebagai tanda bahwa Gereja tidak boleh menjadi institusi yang hanya berbicara tentang surga tetapi mengabaikan penderitaan manusia di bumi. 

Ketiga, mengangkat pandangan kepada masa depan. Dalam bahasa teologi, harapan bukan optimisme kosong. Harapan adalah kebajikan ilahi yang memungkinkan manusia tetap percaya pada karya Allah meskipun situasi tampak gelap.

Sebagaimana ditulis Paus Benediktus XVI dalam Spe Salvi (2007), manusia hidup karena harapan. Karena itu, tema “Angkat Pandanganmu” sesungguhnya merupakan spiritualitas harapan yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.

Madrid: Antara Demokrasi, Migrasi, dan Martabat Manusia

Pemilihan Madrid sebagai titik awal kunjungan bukan kebetulan. Madrid adalah simbol politik Spanyol modern. Di kota ini Paus bertemu Raja Felipe VI, berbicara di hadapan parlemen, bertemu pemerintah, dan memimpin Misa raksasa yang dihadiri lebih dari satu juta umat.  Secara politis, kunjungan ini berlangsung dalam konteks meningkatnya polarisasi politik Eropa.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved